Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Perang berkepanjangan di Timur Tengah semakin mendorong negara-negara ASEAN memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dari kawasan tersebut.
Melansir Reuters Selasa (6/10/2026), para menteri energi ASEAN yang bertemu di Manila, Filipina, pekan ini diperkirakan akan membahas sejumlah langkah untuk menghadapi risiko gangguan pasokan energi.
Konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di Timur Tengah, sekaligus memicu gejolak harga minyak global.
Baca Juga: Drone Serang PLTN Zaporizhzhia, Rusia: Tak Ada Ancaman Keselamatan Nuklir
ASEAN saat ini mengimpor lebih dari separuh kebutuhan minyak mentah untuk kilang-kilangnya dari Timur Tengah.
Kondisi tersebut menjadi semakin rentan ketika harga minyak acuan global berada di kisaran US$ 100 per barel.
Risiko ketahanan energi juga semakin besar setelah kilang-kilang China menghentikan ekspor sejumlah produk minyak untuk Oktober. Kondisi ini berpotensi memperketat pasokan produk energi di kawasan Asia.
Dalam pertemuan di Manila, para menteri energi ASEAN diperkirakan meninjau kembali sejumlah langkah pengamanan pasokan bahan bakar yang telah diluncurkan setelah pembicaraan darurat pada awal tahun.
Salah satunya adalah upaya menerapkan mekanisme respons darurat terkoordinasi melalui ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA).
Wakil Menteri Energi Filipina Felix Fuentebella mengatakan, krisis Timur Tengah membuat ketahanan energi menjadi perhatian yang jauh lebih besar bagi negara-negara ASEAN.
"Apa yang dibawa oleh krisis ini adalah fokus yang lebih tajam pada ketahanan," ujar Fuentebella kepada Reuters pada 1 Oktober.
Menurut dia, ketahanan energi kini tidak lagi sekadar menjadi persoalan teknis, tetapi telah menjadi prioritas bagi para menteri dan pemimpin ASEAN.
Baca Juga: Sentimen Konsumen Australia Anjlok, Suku Bunga Tinggi Tekan Keuangan Keluarga
Tekanan ke konsumen
Kenaikan harga energi juga mulai memberikan tekanan langsung kepada masyarakat dan sektor transportasi di kawasan ASEAN.
Di Filipina, misalnya, pengemudi jeepney menghadapi kenaikan biaya operasional yang signifikan.
Antonio Bandin, salah satu pengemudi yang ikut dalam aksi protes kenaikan harga bahan bakar pekan lalu, mengatakan biaya bahan bakarnya kini lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 2.400 peso atau sekitar US$ 38 per hari.
"Kami hampir tidak membawa pulang apa-apa lagi," kata Bandin.
ASEAN Centre for Energy sebelumnya memperingatkan bahwa gangguan serius terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah dapat menempatkan volume minyak yang setara dengan hampir 28% konsumsi minyak akhir ASEAN dalam risiko.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya penguatan mekanisme keamanan pasokan minyak di kawasan.
Baca Juga: AS Hadapi Wabah Campak Terburuk Sejak 1991, New York Tetapkan Status Darurat
Namun, keterbatasan kapasitas penyimpanan dan persediaan energi masih menjadi kendala dalam penerapan APSA.
Ekonom energi senior Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) Alloysius Joko Purwanto mengatakan, keterbatasan tersebut menjadi salah satu tantangan bagi ASEAN dalam membangun cadangan energi regional.
Filipina, yang masih berada dalam status darurat energi nasional, juga tengah menjajaki skema penyimpanan bahan bakar bersama negara-negara kawasan. Pemerintah Filipina bahkan membuka kemungkinan menjadi lokasi proyek penyimpanan energi regional.
Namun, analis menilai langkah tersebut tidak akan banyak membantu mengatasi krisis yang sedang berlangsung.
"Ini lebih tentang mempersiapkan diri menghadapi krisis berikutnya. Cadangan adalah penyangga. Itu bukan strategi," ujar Christopher Len, senior fellow di ISEAS-Yusof Ishak Institute.
ASEAN dorong energi terbarukan
Selain langkah jangka pendek untuk mengamankan pasokan bahan bakar, para menteri energi ASEAN juga diperkirakan membahas strategi mengurangi ketergantungan terhadap energi impor dalam jangka panjang.
Pengembangan energi terbarukan, kendaraan listrik, efisiensi energi, serta integrasi jaringan listrik kawasan menjadi sejumlah agenda utama.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan tagihan impor energi Asia Tenggara dapat melonjak dari lebih dari US$ 80 miliar pada 2024 menjadi sekitar US$ 245 miliar pada 2035 jika tidak terjadi perubahan struktural pada sistem energi kawasan.
Baca Juga: Yield US Treasury Naik, Tenor 10 dan 30 Tahun Cetak Rekor 24 Tahun
IEA menilai elektrifikasi yang lebih luas, termasuk melalui kendaraan listrik dan penggunaan biofuel, dapat membantu menekan permintaan minyak sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar yang harganya volatil.
Di sisi lain, pengembangan ASEAN Power Grid yang menghubungkan jaringan listrik lintas negara juga menjadi bagian penting dari strategi ketahanan energi.
Investasi yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan jaringan listrik kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$ 27 miliar hingga 2040.
Menurut Len, krisis energi saat ini seharusnya menjadi momentum bagi ASEAN untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, bukan hanya membuat bantalan untuk menghadapi gejolak harga.
"Kita seharusnya menggunakan guncangan ini sebagai pelajaran untuk mengurangi eksposur, bukan hanya meredam dampaknya," ujar Len.














