kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.925   -3,00   -0,02%
  • IDX 6.182   63,43   1,04%
  • KOMPAS100 797   8,66   1,10%
  • LQ45 610   6,92   1,15%
  • ISSI 216   2,64   1,24%
  • IDX30 340   3,88   1,16%
  • IDXHIDIV20 434   4,55   1,06%
  • IDX80 91   1,04   1,16%
  • IDXV30 118   1,47   1,26%
  • IDXQ30 111   1,00   0,91%

Drone Serang PLTN Zaporizhzhia, Rusia: Tak Ada Ancaman Keselamatan Nuklir


Selasa, 06 Oktober 2026 / 07:39 WIB
Drone Serang PLTN Zaporizhzhia, Rusia: Tak Ada Ancaman Keselamatan Nuklir
ILUSTRASI. Serangan Drone Rusia vs Ukraina (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Rusia menyebut drone Ukraina menyerang dua fasilitas di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang berada di wilayah Ukraina tenggara dan dikuasai Rusia pada Senin (5/10/2026) malam.

Melansir Reuters, Direktur Jenderal perusahaan nuklir Rusia Rosatom Alexei Likhachev mengatakan, serangan tersebut menyasar sebuah gedung laboratorium dan fasilitas pengolahan limbah radioaktif.

Baca Juga: Sentimen Konsumen Australia Anjlok, Suku Bunga Tinggi Tekan Keuangan Keluarga

Menurut Likhachev, serangan drone tersebut tidak menimbulkan ancaman terhadap keselamatan nuklir di PLTN Zaporizhzhia.

Namun, seorang pengemudi yang sedang mengantarkan makanan bagi pekerja PLTN dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Ukraina belum memberikan komentar terkait tuduhan serangan tersebut.

Insiden ini terjadi beberapa hari setelah manajemen PLTN Zaporizhzhia menyatakan bahwa penembakan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir telah merusak sejumlah peralatan pasokan listrik eksternal di fasilitas tersebut.

Saat ini, pasokan listrik untuk PLTN disebut berasal dari generator diesel darurat. Meskipun PLTN Zaporizhzhia tidak lagi menghasilkan listrik, fasilitas tersebut tetap membutuhkan pasokan listrik untuk menjaga bahan bakar nuklir tetap dalam kondisi aman.

Baca Juga: AS Hadapi Wabah Campak Terburuk Sejak 1991, New York Tetapkan Status Darurat

PLTN Zaporizhzhia merupakan pembangkit nuklir terbesar di Eropa dengan enam reaktor. Rusia merebut fasilitas tersebut pada minggu-minggu pertama invasi ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022.

Sejak saat itu, Rusia dan Ukraina secara berkala saling menuduh melakukan aksi militer yang berpotensi mengancam keselamatan nuklir di sekitar fasilitas tersebut.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA), badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah berulang kali mendorong penghentian sementara pertempuran di sekitar PLTN Zaporizhzhia agar perbaikan jaringan listrik yang menghubungkan fasilitas tersebut dengan jaringan listrik utama dapat dilakukan.

Pemantau PBB juga ditempatkan di PLTN Zaporizhzhia serta tiga fasilitas nuklir lainnya yang masih beroperasi di Ukraina.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menuding negara-negara Barat turut memungkinkan serangan terhadap PLTN tersebut karena tidak memberikan kecaman yang cukup terhadap aksi Ukraina.

Baca Juga: Yield US Treasury Naik, Tenor 10 dan 30 Tahun Cetak Rekor 24 Tahun

"Intensifikasi penembakan terhadap PLTN Zaporizhzhia oleh Kyiv dimungkinkan karena kurangnya respons yang tepat dari negara-negara Barat terhadap tindakan tersebut," tulis Zakharova di situs Kementerian Luar Negeri Rusia.

Menurut Zakharova, sikap tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara pernyataan negara-negara Barat mengenai keselamatan nuklir dan respons mereka terhadap serangan yang dituduhkan dilakukan militer Ukraina.

Hingga laporan ini dibuat, Ukraina belum memberikan tanggapan atas tuduhan Rusia mengenai serangan drone terhadap dua fasilitas di PLTN Zaporizhzhia.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×