Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Saham Wilmar International merosot 4,9% pada perdagangan Kamis (29/10), di tengah penyelidikan awal kepolisian Indonesia terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada perkebunan milik anak usahanya di Kalimantan Barat.
Pelemahan ini juga terjadi setelah perusahaan melaporkan penurunan laba inti pada kuartal III-2026.
Dikutip dari Business Times, saham perusahaan agribisnis yang tercatat di Bursa Singapura tersebut ditutup turun S$0,16 atau sekitar Rp2.269 menjadi S$3,11 per saham atau sekitar Rp44.100.
Pada perdagangan pagi, saham Wilmar sempat menyentuh S$3,12 atau sekitar Rp44.242 per saham.
Harga penutupan tersebut turun dari S$3,27 atau sekitar Rp46.369 pada perdagangan sebelumnya.
Dalam enam bulan terakhir, saham Wilmar telah kehilangan lebih dari 20% nilainya, dari S$3,99 atau sekitar Rp56.578 pada 8 April 2026.
Baca Juga: Inilah Pidato Anggota DPR Malaysia Bahasa Jawa Minta Prabowo Serius Tangani Karhutla
Laba Inti Wilmar Turun 25,2%
Selain terseret penyelidikan karhutla, saham Wilmar menghadapi tekanan akibat penurunan kinerja laba inti pada kuartal III-2026 yang berakhir pada 30 September.
Wilmar mencatat laba bersih sebesar US$281 juta atau sekitar Rp5,10 triliun. Angka tersebut berbalik dari kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, laba bersih inti perusahaan turun 25,2% secara tahunan menjadi US$267,3 juta atau sekitar Rp4,86 triliun.
Wilmar mengaitkan pelemahan kinerja inti tersebut dengan kenaikan biaya bahan baku dan penurunan margin pengolahan kedelai.
Baca Juga: Singapura Keluarkan Stok Masker N95 untuk Hadapi Kabut Asap Karhutla
Wilmar Terseret Penyelidikan Karhutla di Kalimantan Barat
Kepolisian Indonesia sedang melakukan penyelidikan awal terhadap kebakaran yang berdampak pada sekitar 28 hektare lahan perkebunan milik anak usaha Wilmar di Kalimantan Barat.
Berdasarkan penyelidikan internal, perusahaan menyebut kebakaran berasal dari luar batas konsesi atau area yang tidak ditanami, termasuk lahan masyarakat dan kawasan konservasi.
Wilmar juga mengaku tidak menemukan bukti bahwa kebakaran berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan perusahaan.
Kerugian tanaman dan kelapa sawit akibat kebakaran diperkirakan kurang dari US$500.000 atau sekitar Rp9,09 miliar.
Penyelidikan ini berlangsung setelah Singapore Exchange Regulation meminta sejumlah perusahaan agribisnis yang beroperasi di Indonesia menjelaskan keterkaitan mereka dengan kebakaran dan kabut asap yang berdampak hingga Singapura.
Ketua sekaligus CEO Wilmar, Kuok Khoon Hong, turut menghadiri pertemuan tertutup dengan Menteri Senior Singapura K. Shanmugam dan sejumlah menteri lainnya pada Rabu.
Dalam pertemuan itu, Shanmugam meminta perusahaan bekerja sama dalam penyelidikan dan menegaskan bahwa otoritas akan berupaya menentukan pihak yang bertanggung jawab atas kabut asap lintas batas.
Baca Juga: Singapura Surati 10 Perusahaan Indonesia soal Karhutla & Kabut Asap, Ini Daftarnya














