kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45825,81   2,76   0.34%
  • EMAS948.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.61%
  • RD.CAMPURAN -0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Sekuritas di Jepang bebaskan biaya transaksi saham untuk investor berusia 18-25 tahun


Minggu, 13 Juni 2021 / 14:59 WIB
Sekuritas di Jepang bebaskan biaya transaksi saham untuk investor berusia 18-25 tahun
ILUSTRASI. Bursa Nikkei di Jepang. (Photo by James Matsumoto/SOPA Images/Sipa USA)

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Jepang mulai mendorong investor millenial di pasar saham. Sekuritas di Negara Sakura ini membebaskan fee transaksi untuk investor berusia 18 tahun hingga 25 tahun guna mendorong revolusi transaksi perdagangan saham. 

Mengutip Bloomberg, Minggu (13/6), hal itu akan dilakukan dua broker online utama di Jepang.  Menurut analis Morningstar Inc Michael Makdad di Tokyo,  para pialang melihat peluang untuk mencoba dan membuat orang melewati pintu yang mungkin menjadi pelanggan yang membayar di masa depan dengan menawarkan penawaran khusus kepada kaum muda.

Batas usia 25 tahun dirancang untuk meminimalkan kanibalisasi dari bisnis yang ada. Tak satupun dari aplikasi internasional populer seperti Robinhood atau eToro tersedia di Jepang, saat ini sehingga peluang menjaring anak muda sangat besar.

Meski demikian, Jepang masih butuh waktu panjang menciptakan budaya investasi seperti yang terjadi di negara lain seperti AS. Sikap terhadap investasi di Jepang masih dihantui kehancuran pasar tahun 1990-an saat meletusnya bubble ekonomi yang mengantarkan ekonomi negara itu mengalami stagnasi. Diperlukan waktu sekitar 30 tahun bagi pasar lokal untuk kembali ke puncak.

Baca Juga: Bursa Asia menguat pada perdagangan Selasa (8/6) pagi

Kebanyakan generasi yang melek investasi pada saat bubble itu terjadi hingga kini tidak percaya dengan investasi saham. Jika ada anak-anak mereka sebagai generasi baru mulai berinvetasi di saham diperingatkan untuk berhati-hati karena menurut mereka saham itu identik dengan perjudian. 

Menurut survei Bank of Japan baru-baru ini, lebih dari separuh aset rumah tangga di Jepang merupakan uang tunai meskipun faktanya suku bunga tetap di bawah 1% selama lebih dari 25 tahun. Kekayaan diinvestasikan dalam saham kurang dari 10%, sementara di AS mencapai 33%.

Ada beberapa tanda ledakan perdagangan yang diilhami pandemi yang menyebar dari AS ke seluruh dunia mulai menyentuh Jepang. Investor individu mencapai 23% dari volume perdagangan sejauh ini pada bulan Juni, menurut data dari Tokyo Stock Exchange, dibandingkan dengan 16% pada Februari 2020. 

Rakuten Securities Inc., broker online besar lainnya di Jepang, mengatakan sekitar dua pertiga dari rekening baru dibuka selama tiga bulan yang berakhir Maret adalah orang-orang di bawah 30 tahun.

Persaingan antar broker membuat investasi lebih mudah diakses. Biasanya, saham Jepang harus dibeli dalam lot minimal 100 lembar, yang membutuhkan lump sum di luar jangkauan sebagian besar anak muda. 
Hanya dalam beberapa tahun terakhir beberapa broker digital baru telah memfasilitasi investasi dalam volume yang lebih kecil (meskipun batasan lama masih berlaku di banyak broker tradisional).

Tomohisa Ishikawa, kepala pusat penelitian makroekonomi Japan Research Institute Ltd menyakini perubahan sedang berlangsung.  

“Sebelumnya, sulit untuk mendorong orang-orang ini menjauh dari menabung dan lebih banyak berinvestasi. Sekarang mereka lebih bersemangat untuk membeli saham, investor muda khususnya semakin teredukasi,” kata Ishikawa

Selanjutnya: Sepekan menguat 0,74%, rupiah jadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia

 




TERBARU
Kontan Academy
MiniMBA on Problem Solving using world class consultants approach Sukses Memimpin: Kunci Kepemimpinan Asertif Batch 2

[X]
×