Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lalu lintas kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb mengalami penurunan tajam pada Minggu (26/7/2026), setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan terhadap instalasi minyak Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah. Sementara itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga tetap rendah sepanjang akhir pekan.
Berdasarkan data perusahaan pelacak pelayaran Kpler yang dirilis pada Senin (27/7/2026), hanya terdapat 11 kapal komoditas yang melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Minggu. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Gangguan terhadap jalur pelayaran di Laut Merah telah terjadi sejak pekan lalu di lepas pantai Yaman. Kelompok Houthi yang didukung Iran berupaya memblokade ekspor Arab Saudi, sehingga memperluas dampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya telah menghambat pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Terganggunya jalur pelayaran ini mendorong harga kargo minyak mentah fisik di kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Afrika melonjak ke level tertinggi dalam dua bulan pada pekan lalu.
Dari 11 kapal yang melintasi Bab el-Mandeb pada Minggu, tujuh di antaranya merupakan kapal tanker minyak. Tiga kapal tanker memasuki Laut Merah, termasuk dua kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) yang menuju Pelabuhan Yanbu untuk memuat minyak mentah Arab Saudi. Satu kapal lainnya diketahui memiliki keterkaitan dengan Rusia.
Baca Juga: PM Jepang Takaichi Membela Kebijakan Penopang Yen, Tapi Tingkat Persetujuannya Turun
Sementara itu, empat kapal yang keluar dari Laut Merah pada Minggu terdiri atas VLCC berbendera Hong Kong New Explorer yang mengangkut 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menuju Pelabuhan Ningbo di China timur.
Selain itu, terdapat sebuah kapal tanker yang membawa 1 juta barel minyak mentah Rusia menuju China, serta kapal tanker lain yang mengangkut sekitar 750.000 barel minyak mentah Arab Saudi menuju Pakistan.
Kapal VLCC berbendera Hong Kong lainnya, New Pearl, yang mengangkut 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi juga sedang meninggalkan Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb menuju Pelabuhan Zhoushan di China timur. Kapal tersebut menjadi supertanker keempat tujuan China yang keluar dari kawasan itu sejak Houthi mengumumkan blokade laut.
Associated Maritime Hong Kong selaku pengelola New Explorer dan New Pearl belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang diajukan di luar jam kerja.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompoknya menyerang fasilitas milik perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Aramco, di kota Jizan dan Yanbu pada Sabtu.
"Kelompok kami telah menyerang lokasi-lokasi milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Aramco, di kota Jizan dan Yanbu," kata Yahya Saree.
Lalu Lintas di Selat Hormuz Masih Lesu
Data Kpler juga menunjukkan bahwa kurang dari 10 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz setiap hari sepanjang akhir pekan, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menghentikan sementara aksi saling serang di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak Merosot 4% di Siang Ini (27/7) , Brent Sempat ke Bawah US$ 90 Per Barel
Pada Minggu, hanya tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz. Tiga di antaranya merupakan kapal tanker produk minyak yang terkait dengan Iran dan bergerak keluar dari selat tersebut.
Sementara pada Sabtu, hanya terdapat tiga kapal yang melintas dengan sistem transponder dalam kondisi nonaktif. Ketiga kapal tersebut meliputi sebuah VLCC yang menuju Qatar untuk memuat minyak mentah, kapal pengangkut liquefied petroleum gas (LPG) yang menuju Pelabuhan Ruwais di Uni Emirat Arab untuk mengambil muatan, serta kapal tanker yang mengangkut nafta asal Qatar menuju Jepang.
Pada Jumat, tercatat tujuh kapal melintasi Selat Hormuz, sebagian besar keluar dari kawasan Teluk. Di antaranya terdapat dua VLCC yang membawa minyak mentah dari Irak dan Uni Emirat Arab, serta sebuah kapal tanker yang mengangkut bahan bakar minyak (fuel oil).
Melemahnya aktivitas pelayaran di dua jalur pelayaran strategis dunia tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku industri maritim di tengah memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi terus memengaruhi rantai pasok energi global dan menjaga volatilitas harga minyak dalam jangka pendek.














