kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.144   51,00   0,28%
  • IDX 5.016   -14,02   -0,28%
  • KOMPAS100 647   -1,23   -0,19%
  • LQ45 516   1,99   0,39%
  • ISSI 164   -2,29   -1,38%
  • IDX30 291   1,56   0,54%
  • IDXHIDIV20 391   2,49   0,64%
  • IDX80 75   -0,02   -0,03%
  • IDXV30 108   -0,27   -0,25%
  • IDXQ30 98   0,58   0,59%

Singapore Airlines Kucurkan US$ 1,6 Miliar untuk Kabin Mewah Penerbangan Jarak Jauh


Jumat, 06 November 2026 / 13:48 WIB
Singapore Airlines Kucurkan US$ 1,6 Miliar untuk Kabin Mewah Penerbangan Jarak Jauh
ILUSTRASI. Singapore Airlines mengalokasikan dana S$ 2 miliar (US$ 1,6 miliar) untuk meningkatkan kursi penerbangan jarak jauh dan menghadirkan suite.(dok/Singapore Airlines)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Singapore Airlines mengalokasikan dana lebih dari S$ 2 miliar (US$ 1,6 miliar) untuk meningkatkan kursi penerbangan jarak jauh dan menghadirkan suite dengan tempat tidur ganda yang lebih luas. Langkah ini diambil untuk bersaing dengan maskapai lain yang juga gencar berinvestasi pada kabin kelas atas.

Mengutip Reuters, pada Jumat (6/11/2026), maskapai ini memperkenalkan kabin baru untuk keempat kelas perjalanan. Kursi-kursi baru tersebut dijadwalkan mulai tersedia pada paruh kedua tahun 2027.

Di kelas satu, kursi di bagian tengah dapat diubah menjadi tempat tidur ganda terbesar dalam penerbangan komersial. Untuk pertama kalinya, kelas bisnis akan dilengkapi dengan pintu privasi geser serta kursi yang dapat direbahkan sepenuhnya menjadi tempat tidur datar.

Baca Juga: China Mengesahkan UU Pemberantasan Korupsi Lintas Negara

Peluncuran ini dilakukan di tengah langkah berbagai maskapai global—seperti Air France, British Airways, dan United Airlines—yang mengucurkan miliaran dolar untuk layanan premium, meskipun industri penerbangan saat ini menghadapi kendala dalam produksi dan sertifikasi kursi baru.

Lonjakan harga bahan bakar telah menekan margin keuntungan dan mendorong kenaikan harga tiket, yang membuat sebagian penumpang kelas ekonomi menjadi enggan bepergian. Sebaliknya, segmen perjalanan premium tetap menunjukkan ketahanan yang relatif kuat.

"Kami mencermati bagaimana pelanggan kami bekerja, bersantap, bersantai, dan beristirahat selama perjalanan, serta apa yang paling mereka hargai," ujar CEO Singapore Airlines, Goh Choon Phong, dalam acara peluncuran tersebut.

"Masukan mereka sangat jelas: mereka menginginkan kenyamanan dan privasi yang lebih baik, fungsionalitas yang intuitif, serta ruang yang dapat disesuaikan secara fleksibel dengan kebutuhan mereka—baik untuk bekerja, beristirahat, maupun tetap terhubung dengan orang-orang terkasih saat berada di ketinggian 30.000 kaki." 

Program Singapore Airlines ini mencakup 72 pesawat, yang terdiri dari kombinasi pesawat Airbus A350-900 yang sedang menjalani peremajaan kabin serta pesawat Boeing 777-9 yang telah dipesan; keduanya akan membentuk sebagian besar armada jarak jauh maskapai tersebut.

Kabin-kabin ini awalnya dirancang untuk pesawat 777-9, yang diproyeksikan menjadi pesawat unggulan jarak jauh baru bagi Singapore Airlines seiring dengan rencana pensiunnya armada A380—pesawat yang saat ini menawarkan fasilitas tempat tidur ganda dengan ukuran lebih kecil.

Namun, jadwal operasional pesawat 777-9 telah tertunda selama bertahun-tahun. 

Baca Juga: Harga Emas Melemah Imbas Kekhawatiran Inflasi, Pasar Menanti Data Ketenagakerjaan AS

Chief Commercial Officer Singapore Airlines, Lee Lik Hsin, mengungkapkan kepada Reuters bahwa kondisi ini mendorong maskapai untuk memperluas program tersebut ke armada A350 mereka.

Ia menjelaskan bahwa investasi senilai lebih dari S$ 2 miliar—termasuk rencana peremajaan kabin A350 senilai S$ 1,1 miliar yang diumumkan pada tahun 2024—didanai dari kas internal maskapai yang kuat, yang mencapai S$ 9,1 miliar pada akhir Juni lalu.

Menurut Lee, sebagian besar investasi dialokasikan untuk kabin premium karena biaya per unit untuk kursi kelas bisnis dan kelas satu jauh lebih mahal dibandingkan kursi kelas ekonomi. Pihak maskapai tidak menetapkan batas atas pengeluaran dan berencana untuk terus berinvestasi kapan pun diperlukan guna mempertahankan posisi kepemimpinan mereka di pasar.

"Keunggulan kompetitif kami tidak hanya berasal dari produk kabin pesawat saja," ujarnya. 

"Ini mencakup produk fisik (fasilitas kabin), layanan, keunggulan operasional, dan yang terpenting... sumber daya manusia kami."

David Flynn, pemimpin redaksi publikasi industri Executive Traveller, menilai bahwa kelas satu yang baru—dengan desain kabin melengkung unik yang memanfaatkan ruang dari lorong pesawat untuk menambah ruang pribadi di setiap suite tergolong sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

"Kelas bisnis yang dihadirkan merupakan langkah pengejaran yang solid dan memang diperlukan untuk bersaing dengan maskapai lain, meski bukan sebuah lompatan besar yang drastis," katanya. 

"Memang sulit untuk mengungguli Qsuite kelas bisnis milik Qatar Airways—apalagi dengan versi generasi berikutnya yang akan hadir pada 2027—namun dari segi fitur dan kemudahan penggunaan, Singapore Airlines tampak lebih unggul dibandingkan Emirates, dan mungkin juga Cathay."

Penundaan dan Sertifikasi

Peluncuran ini dilakukan di tengah situasi yang diwarnai oleh penundaan yang terus berlanjut. Boeing awalnya menargetkan pengiriman 777-9 sekitar tahun 2020, namun serangkaian kendala sertifikasi, masalah mesin, pandemi, serta pengawasan yang lebih ketat dari Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) telah mengundur jadwal tersebut hingga tahun 2027, dengan Lufthansa diperkirakan akan menjadi operator pertama yang mengoperasikannya.

Lee mengatakan bahwa keterlambatan dalam rencana pembaruan kabin A350 maupun penyediaan kursi untuk 777-9 disebabkan oleh masalah sertifikasi.

"Kursi-kursi tersebut sudah mendapatkan sertifikasi untuk 777-9, tetapi pesawat 777-9 itu sendiri belum disertifikasi; sementara untuk A350, kursi-kursinya pun belum mendapatkan sertifikasi," ujarnya.

Ia menambahkan, penundaan sertifikasi pada A350 telah mengundur jadwal peluncurannya sekitar setengah tahun.

Seiring dengan upaya maskapai penerbangan dalam merancang penawaran yang lebih premium dengan fitur-fitur khusus—yang harus dipastikan oleh regulator telah memenuhi standar keselamatan benturan yang ketat—sertifikasi kursi kini menjadi hambatan di seluruh industri.

CEO Boeing, Kelly Ortberg, pekan lalu menyampaikan kepada para investor bahwa pengiriman pesawat 787 Dreamliner juga terdampak oleh kendala sertifikasi kursi.

($1 = 1,2762 dolar Singapura)


Video Terkait



TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×