kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.590.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.917   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.246   -53,06   -0,84%
  • KOMPAS100 814   -5,15   -0,63%
  • LQ45 622   -1,73   -0,28%
  • ISSI 216   -2,88   -1,32%
  • IDX30 345   -0,70   -0,20%
  • IDXHIDIV20 429   -0,04   -0,01%
  • IDX80 93   -0,46   -0,49%
  • IDXV30 117   -0,67   -0,57%
  • IDXQ30 111   -0,15   -0,14%

FCGF 2026, Singapura Kejar Kerja Sama dengan China di AI dan Ekonomi Hijau


Jumat, 25 September 2026 / 11:18 WIB
Diperbarui Jumat, 25 September 2026 / 11:20 WIB
FCGF 2026, Singapura Kejar Kerja Sama dengan China di AI dan Ekonomi Hijau
ILUSTRASI. Singapore Deputy Prime Minister & Minister for Trade and Industry (Trade) Gan Kim Yong (Kontan/Melly Anne)


Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pemerintah Singapura melihat peluang untuk memperdalam kerja sama dengan China, terutama di bidang kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi hijau. Kerja sama tersebut diarahkan tidak hanya untuk membuka peluang bisnis, tetapi juga membangun kemampuan dan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan ekonomi.

Singapore Deputy Prime Minister & Minister for Trade and Industry (Trade) Gan Kim Yong menyoroti hubungan ekonomi Singapura dan China yang terus berkembang mengikuti perubahan tantangan dan peluang ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah proyek bilateral yang dibangun dalam beberapa dekade terakhir. 

Mulai dari Suzhou Industrial Park, yang mendukung industrialisasi dan keterbukaan ekonomi China, hingga Tianjin Eco-City, yang membawa kerja sama kedua negara ke sektor pembangunan kota berkelanjutan.

Selain itu, terdapat Chongqing Connectivity Initiative, yang memanfaatkan kekuatan Singapura di bidang jasa modern dan konektivitas untuk menghubungkan China Barat dengan Asia Tenggara dan pasar global.

“Setiap proyek merespons tantangan dan peluang pada masanya,” ujar Gan.

Menurut dia, proyek-proyek tersebut tidak hanya menciptakan peluang bisnis, tetapi juga membantu kedua negara memahami kekuatan masing-masing dan membangun kepercayaan untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Baca Juga: FCGF 2026, Marty Natalegawa: Dunia Menghadapi Turbulensi Permanen

Kerja Sama AI

Kerja sama Singapura-China tidak hanya diarahkan pada perdagangan dan investasi, tetapi juga pada pembangunan kapasitas, teknologi, serta keterampilan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk ekonomi masa depan.

AI menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki ruang besar untuk memperdalam kerja sama Singapura-China.

Gan mengatakan kedua negara dapat bertukar perspektif mengenai tata kelola AI dan data, sekaligus membangun kepercayaan dalam penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Di sisi bisnis, perusahaan dan lembaga riset dari kedua negara dapat bekerja sama mengembangkan penerapan AI yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Menurut Gan, hal tersebut dapat membantu perusahaan kecil mengakses kemampuan teknologi yang sebelumnya mahal atau sangat terspesialisasi.

AI juga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pekerja. Dengan menggabungkan AI dan pengetahuan serta pengalaman yang telah dimiliki, pekerja dapat menjalankan pekerjaan yang lebih kompleks.

Ekonomi Hijau dan Tenaga Kerja

Selain AI, Gan melihat ekonomi hijau sebagai bidang lain yang berpotensi memperluas kerja sama Singapura dan China.

China memiliki kekuatan besar dalam teknologi dan manufaktur, sementara Singapura memiliki keunggulan dalam bidang keuangan, konektivitas, dan implementasi proyek.

Salah satu contohnya adalah kerja sama green shipping corridor, yang mencakup uji coba bahan bakar alternatif dan solusi digital di sektor maritim. Kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan tenaga kerja agar dapat beradaptasi dengan perubahan di industri maritim.

“Ini adalah jenis kerja sama yang akan kami kejar. Kerja sama yang membangun kemampuan dan mendukung partisipasi di bidang-bidang pertumbuhan baru,” kata Gan.


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×