kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

S&P 500 Diproyeksi Naik 3% hingga Akhir 2026, Ini Katalis Penguatnya


Rabu, 26 Agustus 2026 / 19:18 WIB
S&P 500 Diproyeksi Naik 3% hingga Akhir 2026, Ini Katalis Penguatnya
ILUSTRASI. Indeks saham utama Amerika Serikat, S&P 500, diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan hingga akhir 2026. (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks saham utama Amerika Serikat, S&P 500, diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan hingga akhir 2026. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, indeks tersebut diproyeksikan mencapai 7.900 pada penghujung tahun, sekitar 3% di atas level saat ini.

Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme pelaku pasar bahwa pertumbuhan laba perusahaan AS akan tetap solid, sementara ketegangan antara AS dan Iran berpotensi mereda.

Median estimasi dari 46 ahli strategi, analis, dan manajer portofolio yang disurvei Reuters pada 12-25 Agustus 2026 menunjukkan S&P 500 akan berakhir di level 7.900 pada akhir tahun. Angka tersebut 2,9% lebih tinggi dibandingkan penutupan Selasa (25/8/2026) di level 7.677,28.

Sepanjang 2026, S&P 500 telah menguat sekitar 12%.

Laba perusahaan dan investasi AI jadi katalis

Kinerja laba perusahaan yang jauh lebih kuat dari perkiraan pada kuartal II 2026 menjadi salah satu faktor utama yang menopang optimisme terhadap pasar saham AS.

Selain itu, lonjakan belanja terkait kecerdasan buatan (AI) dinilai mampu mendukung valuasi perusahaan teknologi dan pasar saham secara keseluruhan.

Baca Juga: Kanada Balas Tarif Trump dengan Bea Impor hingga 50%

"Sulit untuk menggambarkan kondisi ini sebagai sesuatu selain ledakan investasi," kata Sameer Samana, Kepala Ekuitas Global dan Aset Riil di Wells Fargo Investment Institute.

"Sepertinya ledakan ini akan berlanjut hingga tahun depan," ujarnya.

Proyeksi S&P 500 tersebut juga meningkat dibandingkan hasil jajak pendapat Reuters pada Mei 2026. Saat itu, para responden memperkirakan indeks akan mengakhiri 2026 di level 7.620.

S&P 500 bahkan sempat mencatat rekor tertinggi pada Agustus, salah satunya didorong musim laporan keuangan kuartal II yang kuat.

Menurut LSEG I/B/E/S, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 berada di jalur untuk mencatat pertumbuhan laba yang disesuaikan sebesar 33,5% secara tahunan pada kuartal II. Jika terealisasi, pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2021.

Hasil laporan keuangan Nvidia pada Rabu menjadi penutup musim laporan laba kuartal II. Perusahaan pembuat chip tersebut menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari masifnya pembangunan infrastruktur AI sekaligus menjadi pemain penting dalam investasi dan kesepakatan di sektor AI.

Valuasi S&P 500 masih tinggi

Ekspektasi laba untuk sisa 2026 juga meningkat. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan valuasi saham AS.

LSEG mencatat rasio price-to-earnings (P/E) forward S&P 500 berada di level 20,2 pada Jumat. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan rasio P/E sekitar 22 pada akhir 2025, tetapi tetap menunjukkan valuasi pasar berada pada level yang relatif tinggi.

Di sisi lain, lonjakan laba perusahaan yang berkaitan dengan AI justru mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan investor.

"Tak hanya kita berada dalam lingkungan di mana analis dan ahli strategi memperkirakan pertumbuhan yang cukup tinggi, tetapi kita juga berada dalam lingkungan di mana pendorong laba menjadi sedikit kurang transparan," kata Savita Subramanian, Equity and Quant Strategist di BofA Securities.

Baca Juga: Elon Musk Raih Penghargaan Tertinggi Ukraina, Starlink Jadi Andalan Perang

BofA Securities sendiri memiliki target akhir tahun yang lebih konservatif untuk S&P 500, yakni 7.100.

"Perusahaan-perusahaan teknologi berkapitalisasi sangat besar ini sekarang mengambil lebih banyak utang. Neraca mereka masih sangat sehat, tetapi mereka meningkatkan leverage," ujar Subramanian.

Ketegangan AS-Iran menjadi perhatian investor

Selain kinerja laba dan investasi AI, perkembangan hubungan AS dan Iran juga menjadi faktor penting bagi pasar saham Wall Street.

Konflik bersenjata antara kedua negara telah mereda, tetapi upaya untuk mencapai kesepakatan damai masih menemui hambatan. Sementara itu, lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz masih menghadapi berbagai kendala.

Ketegangan tersebut sebelumnya mendorong harga minyak melonjak setelah konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari. Namun, penurunan harga minyak setelahnya membantu meningkatkan sentimen di Wall Street sekaligus mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Investor kini juga mencermati pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Jumat dalam simposium bank sentral AS di Jackson Hole. Pasar mencari petunjuk apakah The Fed akan mengambil sikap yang lebih hawkish dalam menghadapi inflasi.

Pemilu paruh waktu AS berpotensi picu volatilitas

Faktor politik juga diperkirakan menjadi sumber ketidakpastian dalam beberapa bulan mendatang. Pemilu paruh waktu AS akan berlangsung pada awal November dan mencakup pemilihan di tingkat federal, negara bagian, hingga lokal.

Komposisi Kongres menjadi perhatian karena Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump saat ini menguasai kedua kamar legislatif AS.

Samana memperkirakan investor mulai lebih memperhatikan pemilu setelah libur Labor Day.

"Setelah Labor Day, perhatian orang-orang akan beralih ke pemilu, dan mereka mungkin akan menemukan lebih banyak alasan untuk menjual saham daripada membeli, sehingga Anda seharusnya melihat semacam kemunduran," kata Samana.

Baca Juga: Iran dan Oman Bahas Koridor Sementara di Selat Hormuz, Jalur Energi Global

Namun, ia memperkirakan koreksi tersebut hanya bersifat sementara dan berpotensi diikuti reli pada akhir tahun yang kemudian berlanjut hingga 2027.

Dow Jones juga diproyeksikan menguat

Selain S&P 500, indeks Dow Jones Industrial Average juga diperkirakan mencatat kenaikan hingga akhir 2026.

Dow Jones yang ditutup pada level 53.577,40 pada Selasa diproyeksikan berakhir di sekitar 54.500 pada penghujung tahun.

Secara keseluruhan, hasil jajak pendapat Reuters menunjukkan sentimen terhadap pasar saham AS masih positif. Kinerja laba perusahaan yang kuat, investasi besar-besaran pada AI dan potensi meredanya ketegangan geopolitik menjadi faktor pendukung utama.

Meski demikian, valuasi yang relatif tinggi, peningkatan leverage perusahaan teknologi, ketidakpastian kebijakan moneter serta pemilu paruh waktu AS tetap menjadi risiko yang dapat memicu volatilitas pasar hingga akhir tahun.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×