kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   -20.000   -0,79%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

S&P Turunkan Prospek Meta Menjadi Negatif Gara-gara Kekhawatiran Belanja AI


Sabtu, 31 Oktober 2026 / 10:49 WIB
S&P Turunkan Prospek Meta Menjadi Negatif Gara-gara Kekhawatiran Belanja AI
ILUSTRASI. Logo Meta (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. S&P Global Ratings merevisi prospek Meta Platforms dari "stabil" menjadi "negatif", dengan alasan adanya ketidakpastian yang signifikan seputar belanja modal serta arus kas operasional bebas (free operating cash flow/FOCF) dari raksasa media sosial tersebut.

Perusahaan-perusahaan teknologi besar (big tech) secara historis telah menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk komputasi awan, iklan daring, dan perdagangan elektronik.

Namun, lonjakan kecerdasan buatan (AI) telah mendorong belanja modal ke tingkat yang sangat tinggi, sehingga memicu kekhawatiran investor mengenai apakah sektor ini mampu menghasilkan imbal hasil dengan cukup cepat.

Pekan lalu, Meta memproyeksikan belanja modal tahunan berkisar antara US$ 135 miliar hingga US$ 145 miliar, setelah melaporkan defisit arus kas bebas sebesar US$ 2,12 miliar pada kuartal ketiga. Meta juga berencana mengakses pasar publik dan menjual saham senilai US$ 97,5 miliar guna mendanai pengembangan infrastruktur AI.

Baca Juga: Belanja AI Membengkak dan E-Commerce Melambat, Saham Amazon Tumbang

S&P menyatakan kemampuan Meta untuk memonetisasi investasi AI-nya lebih terbatas dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya. S&P menambahkan, belum jelas kapan aliran pendapatan dari investasi tersebut akan memberikan kontribusi signifikan yang mampu melampaui peningkatan biaya yang terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

S&P kini memperkirakan Meta akan mencatatkan defisit arus kas operasional bebas (FOCF) sebesar US$ 39 miliar pada tahun 2026 dan US$ 71 miliar pada tahun 2027.

Lembaga pemeringkat tersebut menyatakan, tingginya belanja perusahaan dapat menyebabkan FOCF tetap negatif hingga setelah tahun 2028, dan memperkirakan Meta akan mendanai seluruh kekurangan kas pada tahun 2028 melalui utang.

"Mengingat kurangnya kejelasan mengenai belanja modal (capex) perusahaan di masa depan serta rencana investasi AI jangka panjang yang sangat ambisius, kami semakin ragu bahwa perusahaan akan memangkas pengeluarannya seperti yang diantisipasi sebelumnya," ungkap S&P, Jumat (30/10/2026), seperti dikutip Reuters.

Lembaga pemeringkat tersebut menyatakan keyakinannya bahwa rasio utang (leverage) Meta dapat meningkat hingga di atas 1,0x paling cepat pada tahun 2027, yang merupakan ambang batas S&P Global untuk peringkat kredit penerbit "AA-".

"Kami tidak sependapat dengan penilaian S&P mengenai kemampuan Meta dalam memonetisasi kecerdasan buatan (AI)," ujar juru bicara Meta kepada Reuters.

Ia menambahkan Meta melihat peluang produk dan bisnis yang signifikan di masa depan, yang mendukung profil kredit kami yang sangat kuat.

Menurut S&P, rasio utang Meta meningkat dari 0,1x, terutama karena strategi perusahaan yang lebih memilih untuk menyewa kapasitas pusat data (data center) daripada menerbitkan utang.

"Jika belanja modal (capex) tetap tinggi dan terus tumbuh lebih cepat dari perkiraan kami, profil kredit akan terus melemah dan arus kas akan menjadi negatif," kata Naveen Sarma, kepala sektor media dan telekomunikasi AS di S&P Global Ratings.

Hingga 30 September, Meta mencatat utang jangka panjang sebesar US$ 80,92 miliar.

Pada hari Kamis, S&P juga menurunkan prospek untuk Broadcom dari positif menjadi stabil, dengan alasan bahwa pertumbuhan pesat perusahaan cip tersebut di bidang AI meningkatkan ketergantungannya pada segelintir pelanggan besar.

Sebelumnya tahun ini, S&P menurunkan peringkat kredit raksasa komputasi awan Oracle menjadi "BBB-", satu tingkat di atas kategori "sampah" (junk), akibat neraca keuangan perusahaan yang memiliki beban utang tinggi.

Baca Juga: Pasar Global: Saham Jatuh, Emas Merosot, Kripto Drop, Obligasi Menguat


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×