CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,33   10,53   1.04%
  • EMAS995.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Meski Diancam China, Ketua DPR AS Tetap akan Kunjungi Taiwan Hari Ini


Selasa, 02 Agustus 2022 / 05:29 WIB
Meski Diancam China, Ketua DPR AS Tetap akan Kunjungi Taiwan Hari Ini
ILUSTRASI. Sumber Reuters membisikkan, Ketua DPR AS Nancy Pelosi akan tetap mengunjungi Taiwan pada hari Selasa (2/8/2022). REUTERS/Jonathan Ernst


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Tiga orang sumber terpercaya Reuters membisikkan, Ketua DPR AS Nancy Pelosi akan tetap mengunjungi Taiwan pada hari Selasa (2/8/2022). 

Menurut sumber tersebut, pihak AS mengatakan tidak akan terintimidasi oleh ancaman China yang tidak akan tinggal diam jika Pelosi melakukan perjalanan untuk mengunjungi Taiwan, sebuah pulau yang diklaim oleh Beijing.

Seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika Serikat telah memberi tahu beberapa sekutu tentang kunjungan Pelosi ke Taiwan.

Sedangkan dua sumber lainnya mengatakan, kemungkinan Pelosi dijadwalkan bertemu dengan sekelompok kecil aktivis yang blak-blakan tentang catatan hak asasi manusia China selama dia tinggal di Taiwan, pada hari Rabu (3/8/2022).

Kementerian luar negeri Taiwan mengatakan tidak memiliki pernyataan atas laporan rencana perjalanan Pelosi.

Kantor Pelosi mengatakan pada hari Minggu bahwa dia memimpin delegasi kongres ke wilayah yang akan mencakup kunjungan ke Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang. Dari daftar tur Asia tersebut, sekretariat DPR AS tidak menyebutkan Taiwan.

Baca Juga: Apakah Ketua DPR AS Nancy Pelosi Bakal Tetap Berkunjung ke Taiwan?

Juru bicara kementerian luar negeri China Zhao Lijian mengatakan pada briefing harian pada hari Senin bahwa kunjungan Pelosi akan menyebabkan konsekuensi serius.

"Jika Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Pelosi pergi ke Taiwan, itu akan menjadi campur tangan besar dalam urusan internal China, secara serius merusak kedaulatan dan integritas teritorial China, menginjak-injak prinsip satu-China, secara serius mengancam perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, dan secara serius merusak hubungan China-AS, yang mengarah pada perkembangan dan konsekuensi yang sangat serius," demikian bunyi pernyataan resmi Kemenlu China. 

"Kami ingin memberi tahu Amerika Serikat sekali lagi bahwa China berdiri dan Tentara Pembebasan Rakyat China tidak akan pernah tinggal diam, dan bahwa China akan mengambil tanggapan tegas dan tindakan balasan yang kuat untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya," tambahnya.

Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak pernah meninggalkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau itu di bawah kendalinya. Taiwan menolak klaim kedaulatan China dan mengatakan hanya rakyatnya yang dapat memutuskan masa depan pulau itu.

China memandang kunjungan pejabat AS ke Taiwan sebagai sinyal yang menggembirakan bagi kamp pro-kemerdekaan di pulau itu. Washington tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, tetapi terikat oleh hukum AS untuk menyediakan sarana untuk mempertahankan diri.

Baca Juga: Xi Jinping kepada Joe Biden: Jangan Main Api soal Taiwan

Sebuah video oleh Tentara Pembebasan Rakyat, yang menunjukkan adegan latihan dan persiapan militer, diposting ke situs media pemerintah Senin malam.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional John Kirby menolak retorika China sebagai tidak berdasar dan tidak pantas pada konferensi pers Gedung Putih Senin.

"Pelosi memiliki hak untuk mengunjungi Taiwan dan seorang Ketua DPR telah mengunjungi Taiwan sebelumnya tanpa insiden seperti yang dilakukan oleh banyak anggota Kongres termasuk tahun ini. Sederhananya, tidak ada alasan bagi Beijing untuk mengubah kunjungan potensial yang konsisten dengan kebijakan AS yang sudah berlangsung lama menjadi semacam krisis atau konflik," papar Gedung Putih. 

Partai Republik Newt Gingrich adalah ketua DPR terakhir yang mengunjungi Taiwan, pada tahun 1997. Kunjungan Pelosi, yang berada di urutan kedua dalam garis suksesi kepresidenan AS dan kritikus lama terhadap China, akan dilakukan di tengah memburuknya hubungan antara Washington dan Beijing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×