Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - China pada Senin (6/4/2026) mengeluarkan pedoman untuk sektor e-commerce yang bertujuan mengoordinasikan pengembangan domestik dengan pasar internasional. Kebijakan ini terbit sepekan setelah delegasi anggota parlemen Eropa berkunjung untuk membahas berbagai tantangan dan persaingan terkait.
Para anggota parlemen Uni Eropa sebelumnya menekan China terkait lonjakan produk berbahaya yang masuk ke blok tersebut serta terbatasnya akses ke pasar China. Kunjungan ini menjadi kunjungan parlemen Eropa pertama ke negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut dalam delapan tahun terakhir.
Bulan lalu, Uni Eropa sepakat untuk merombak sistem bea cukainya, termasuk memperketat pengawasan terhadap platform e-commerce, yang sebagian besar berasal dari China, yang dapat dikenai denda apabila menjual produk ilegal atau tidak aman di wilayah Uni Eropa.
Melansir Reuters, pedoman baru China untuk sektor ini, yang diterbitkan bersama oleh sejumlah kementerian dan regulator, menyerukan keseimbangan antara promosi dan regulasi, serta antara efisiensi dan keadilan, sembari mengintegrasikan ekonomi digital dan ekonomi riil.
Pedoman tersebut juga menyinggung pembentukan zona percontohan untuk aktivitas e-commerce lintas negara yang akan digunakan untuk inisiatif khusus, penyusunan aturan dan standar, serta ekspansi platform ke pasar luar negeri.
“Kami akan mendorong perusahaan e-commerce untuk membangun basis pengadaan langsung di luar negeri, memperluas impor produk-produk berkualitas tinggi dan khas, serta menciptakan ‘jalur cepat’ e-commerce agar barang global dapat masuk ke pasar China,” demikian isi pernyataan tersebut.
Baca Juga: Presiden Xi Jinping Dorong Percepatan Transisi Energi Baru di Tengah Gejolak Global
Langkah kebijakan ini dinilai sebagai langkah konstruktif untuk meredakan masalah e-commerce antara China dan Uni Eropa, namun kecil kemungkinan dapat langsung menyelesaikan sengketa secara menyeluruh, kata Chen Bo dari National University of Singapore.
Peneliti senior di East Asian Institute itu menilai peluang tercapainya penyelesaian institusional secara penuh cukup kecil. Namun ia mengatakan kesepakatan sementara yang berkembang menjadi perjanjian lebih luas masih mungkin tercapai.
“(Kebijakan ini) sebenarnya menunjukkan komitmen China untuk mempromosikan e-commerce-nya ke dunia, karena kekhawatiran Uni Eropa cukup representatif. Ini juga menjadi kekhawatiran dari negara-negara maju atau ekonomi besar lainnya,” tambah Chen.
Pedoman tersebut, yang tidak membahas perdagangan e-commerce China dengan wilayah tertentu, dirilis bersama oleh Kementerian Perdagangan China, kementerian industri, pertanian dan pariwisata, serta regulator dunia siber dan pengawasan pasar.
Tonton: Wall Street Menguat! Harapan Damai AS-Iran Picu Lonjakan Saham Global
Kementerian Luar Negeri China mengatakan kunjungan delegasi Uni Eropa dapat meningkatkan pemahaman blok tersebut terhadap China dan mendukung stabilitas hubungan bilateral.
Kunjungan itu menandai upaya keterlibatan kembali secara hati-hati setelah hubungan sempat tegang akibat ketidakseimbangan perdagangan, hubungan Beijing dengan Rusia pascaperang Ukraina, serta ketegangan terkait kontrol ekspor logam tanah jarang.













