Teheran Tuding AS Manfaatkan Aksi Protes Kematian Amini untuk Kacaukan Iran

Selasa, 27 September 2022 | 15:11 WIB   Reporter: SS. Kurniawan
Teheran Tuding AS Manfaatkan Aksi Protes Kematian Amini untuk Kacaukan Iran

ILUSTRASI. Koran dengan gambar sampul Mahsa Amini, seorang wanita yang meninggal setelah ditangkap oleh polisi moral Iran terlihat di Teheran, Iran, 18 September 2022. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS.


KONTAN.CO.ID - Iran menghadapi lebih banyak kritik internasional atas kematian seorang wanita dalam tahanan polisi yang memicu protes nasional, setelah Teheran menuduh AS menggunakan kerusuhan untuk mencoba mengacaukan negaranya.

Iran telah menindak demonstrasi terbesar sejak 2019, yang dipicu kematian wanita Kurdi berusia 22 tahun, Mahsa Amini pada 16 September setelah dia ditahan polisi moral yang memberlakukan pembatasan ketat pada pakaian wanita. Kasus ini menuai kecaman luas.

Tetapi, Reuters melaporkan, langkah-langkah tersebut tidak menghentikan rakyat Iran untuk menyerukan jatuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan para ulama lainnya.

Kanada akan menjatuhkan sanksi kepada mereka yang bertanggungjawab atas kematian Amini, termasuk unit polisi moralitas Iran dan kepemimpinannya, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan pada Senin (26/9).

"Kami telah melihat Iran mengabaikan hak asasi manusia berkali-kali, sekarang kami melihatnya dengan kematian Mahsa Amini dan tindakan keras terhadap aksi protes," kata Trudeau kepada wartawan di Ottawa, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: 17 Orang Tewas dalam Demo 6 Hari di Iran atas Kematian Amini di Tahanan Polisi

Akun Twitter aktivis 1500tasvir mem-posting video yang katanya menunjukkan protes jalanan pada Senin malam di berbagai bagian Teheran, dan rekaman di mana penduduk terdengar meneriakkan "Matilah Khamenei" dari rumah mereka. 

Reuters tidak bisa memverifikasi video tersebut.

Perempuan telah memainkan peran penting dalam aksi protes, melambaikan dan membakar cadar mereka.

Kelompok hak asasi manusia Hengaw mem-posting sebuah video yang katanya menunjukkan para pengunjuk rasa bersorak di Sanandaj, ibu kota Provinsi Kurdistan, ketika para wanita melepas jilbab mereka untuk memprotes jilbab yang dipaksakan. 

Dalam video berikutnya, terdengar suara tembakan keras saat jalanan tampak dipenuhi gas air mata.

Baca Juga: Ini Kehebatan Shahed-136, Drone Pembunuh Buatan Iran yang Dipakai Rusia di Ukraina

Video lain yang di-posting di media sosial menunjukkan pasukan keamanan melepaskan tembakan pada Senin malam selama protes di Sardasht, sebuah kota dengan populasi Kurdi yang besar. 

Tapi, Reuters tidak bisa memverifikasi video tersebut.

Iran mengatakan, Amerika Serikat mendukung para perusuh dan berusaha mengacaukan Republik Islam.

"Washington selalu berusaha melemahkan stabilitas dan keamanan Iran meskipun tidak berhasil," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters.

Di halaman Instagram-nya, Kanaani menuduh para pemimpin AS dan beberapa negara Eropa menyalahgunakan insiden tragis untuk mendukung "perusuh" dan "kehadiran jutaan orang di jalan-jalan dan alun-alun negara untuk mendukung sistem tersebut".

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru