Terdampak Sanksi Ekonomi Barat, Rusia Terancam Hadapi Default

Senin, 28 Maret 2022 | 15:06 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Terdampak Sanksi Ekonomi Barat, Rusia Terancam Hadapi Default

ILUSTRASI. Seorang pria menggunakan smartphone-nya di dekat papan yang menunjukkan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap rubel Rusia di Saint Petersburg, Rusia 28 Februari 2022. Terdampak Sanksi Ekonomi Barat, Rusia Terancam Hadapi Default.


KONTAN.CO.ID -  MOSKOW. Untuk sementara investor bisa bernafas lega karena pemerintah Rusia telah membayarkan bunga utang jatuh tempo di luar negeri senilai US$ 117 juta.

Namun Rusia masih menghadapi utang yang lebih besar lagi. Negara ini masih menanggung utang hingga US$ 2,2 miliar dan akan jatuh tempo pada 4 April 2022.

“Pembayaran terakhir nilainya kecil, tapi Rusia harus mulai menulis cek miliaran dolar, itu adalah perhitungan yang berbeda. Saya tidak berpikir realistis bahwa Rusia menghasilkan US$ 2,2 miliar," kata Mantan manajer portofolio Elliott Management Jay Newman, dikutip dari Marketwatch, Senin (28/3).

Pembayaran obligasi minggu lalu membuat panik investor karena tidak jelas apakah bank sentral Rusia dapat menggunakan cadangan beku dalam bentuk dolar AS sebagai pembayaran dan apakah bank AS akan bekerja dengan negara tersebut dalam transaksi pembayaran.

Baca Juga: Surat Utang Negara Lesu, Obligasi Korporasi Justru Mulai Bergairah

Ada juga perselisihan apakah Rusia dapat membayar utang dengan mata uangnya sendiri. Kementerian Keuangan Rusia bersikeras bahwa negara tersebut dapat membayar dalam rubel - dollar (RUB USD) sebesar +6,39% tetapi orang-orang yang mengetahui kontrak justru harus dibayar dengan dolar.

Untuk beberapa pembayaran cicilan yang lebih kecil, Rusia diizinkan untuk membayar dalam rubel. Tetapi untuk pembayaran sebelumnya sebesar US$117 juta dan pembayaran yang akan datang sebesar US$ 2,2 miliar mengharuskan Rusia untuk membayar dalam dolar AS.

Tetapi para ahli utang mengambil pandangan suram tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka pesimis terhadap kemampuan dan kemauan Rusia untuk memenuhi kewajiban utang terutama karena Rusia menghadapi hampir US$ 4,8 miliar pembayaran utang tahun ini. Departemen Keuangan AS mengklarifikasi bahwa Rusia dapat menggunakan dana beku untuk melakukan pembayaran utang hingga 25 Mei 2022.

Setelah itu, negara tersebut mungkin perlu mengumpulkan uang dari sumber lain seperti meminjam uang tunai atau menjual minyak ke negara-negara seperti China atau India. “Jika mereka melakukan pembayaran dengan dana yang tidak dapat mereka akses, itu pada dasarnya adalah hal yang lucu,” kata Newman.

Baca Juga: Rusia Ikut Melawan Dominasi Dolar AS, Begini Dampaknya Bagi Perdagangan Global

Newman mengatakan, Rusia akan menghabiskan 15 tahun memulihkan utang sebesar US$2,4 miliar dari Argentina setelah gagal bayar. Bahkan jika Rusia dapat melakukan pembayaran lain, beberapa ahli khawatir Rusia akan menolak begitu saja.

Newman berpendapat sanksi keras yang dijatuhkan oleh AS dapat menjadi bumerang dan menghapus kemampuan Rusia untuk mengakses pasar dan perdagangan global menghilangkan motivasi negara itu untuk terus membayar utang.

"Jika Rusia terputus dari bagian dunia lainnya, Anda harus ragu mereka akan terus membayar, ”kata Newman.

Editor: Noverius Laoli

Terbaru