The Fed Kerek Suku Bunga, Pertempuran Agresif Melawan Inflasi Dimulai

Kamis, 17 Maret 2022 | 04:30 WIB Sumber: Reuters
The Fed Kerek Suku Bunga, Pertempuran Agresif Melawan Inflasi Dimulai

ILUSTRASI. Federal Reserve menaikkan suku bunga 25 basis poin (0,25%). REUTERS/Yuri Gripas/File Photo


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve akhirnya menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2018. The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin  menjadi 0,25%-0,5%.

The Fed juga menyusun rencana agresif untuk mendorong kenaikan suku bunga pada tahun depan untuk membatasi kekhawatiran ancaman kenaikan inflasi yang tinggi akibat perang Ukraina.

Seperti dikutip Reuters, sebagian besar pembuat kebijakan The Fed sekarang melihat tingkat bunga akan naik ke kisaran 1,75%- 2% pada akhir tahun 2022, setara dengan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada masing-masing dari enam pertemuan kebijakan The Fed yang tersisa tahun ini.

Mereka juga memproyeksikannya bunga The Fed akan naik menjadi 2,8% tahun depan, di atas level proyeksi 2,4% yang menurut pejabat sekarang akan memperlambat ekonomi.

Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan ekonomi AS kuat dan The Fed akan menaikkan suku bunga lebih agresif pada pertemuan mendatang jika diperlukan untuk mengendalikan inflasi.

Baca Juga: Fed Hikes Interest Rates, Signals Aggressive Fight Against Inflation

"Kami akan melihat kondisi yang berkembang, dan jika kami menyimpulkan bahwa akan lebih tepat untuk bergerak lebih cepat untuk menghapus kebijakan yang akomodatif, maka kami akan melakukannya," kata Powell saat memaparkan hasil pertemuan Komite Kebijakan The Fed, Rabu (16/3) waktu AS.

Powell mengatakan, ekonomi AS kuat dan harus "berkembang" bahkan di lingkungan di mana biaya pinjaman meningkat dan stimulus dihilangkan.  "Ini jelas waktunya untuk menaikkan suku bunga dan memulai penyusutan neraca," katanya.

Perlambatan ekonomi, bagaimanapun, mungkin sudah berlangsung. Pembuat kebijakan Fed menurunkan perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS untuk 2022 menjadi 2,8%, dari 4% yang diproyeksikan pada bulan Desember 2021 lalu karena saat itu The Fed mulai mengabaikan risiko baru yang dihadapi ekonomi global.

"Invasi Ukraina oleh Rusia menyebabkan kesulitan manusia dan ekonomi yang luar biasa. Implikasinya terhadap ekonomi AS sangat tidak pasti, tetapi dalam waktu dekat invasi dan peristiwa terkait kemungkinan akan menciptakan tekanan ke atas tambahan pada inflasi dan membebani kegiatan ekonomi, " kata The Fed dalam pernyataannya. 

Inflasi tinggi 

Pernyataan itu menandai berakhirnya pertempuran penuh The Fed melawan efek pandemi Covid-19. The Fed memilih menaikkan suku bunga dan menjanjikan kenaikan bunga yang berkelanjutan untuk mengekang tingkat inflasi AS yang berada di level tertinggi dalam 40 tahun.

Jalur suku bunga The Fed yang ditunjukkan dalam proyeksi baru tersebut lebih keras dari yang diharapkan. Ini mencerminkan kekhawatiran Fed tentang inflasi yang telah bergerak lebih cepat dan mengancam untuk menjadi lebih persisten dari yang diperkirakan.

Indeks bursa saham utama AS tertahan kenaikannya setelah rilis pernyataan The Fed dengan indeks S&P 500 masih bertahan naik sekitar 1,1% pada Rabu (16/3).

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik sebentar ke level tertinggi sejak Mei 2019. Sementara imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun, yang lebih mencerminkan pandangan pasar tentang ke mana arah kebijakan Fed, mencapai level 2,0% untuk pertama kalinya. sejak Mei 2019.

Baca Juga: Wall Street Melonjak Jelang Pengumuman Kebijakan Suku Bunga The Fed

Dengan kenaikan suku bunga yang lebih agresif sekarang diproyeksikan, The Fed memperkirakan, inflasi AS akan tetap lebih dari dua kali lipat target 2% tahun ini. Lalu akan akan turun menjadi 2,7% pada tahun 2023 dan menjadi 2,3% pada tahun 2024. 

Tingkat pengangguran diperkirakan turun menjadi 3,5% tahun ini dan tetap pada level tersebut tahun depan. Namun diproyeksikan naik tipis menjadi 3,6% pada 2024.

Dalam pernyataan terbarunya, The Fed juga akan mulai mengurangi neraca hampir US$ 9 triliun pada pertemuan mendatang.

Presiden Fed St. Louis James Bullard adalah satu-satunya anggota pembuat kebijakan The Fed yang tidak setuju dalam keputusan The Fed tersebut.

 

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru