Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Riyadh. Kecelakaan Saudia Flight 163 pada 19 Agustus 1980 menjadi salah satu tragedi penerbangan paling mematikan dalam sejarah Arab Saudi. Pesawat Lockheed L-1011 TriStar milik Saudi Arabian Airlines tersebut berhasil mendarat setelah mengalami kebakaran, tetapi seluruh 301 orang di dalamnya meninggal dunia sebelum evakuasi dilakukan.
Pesawat dengan nomor registrasi HZ-AHK itu sedang melayani penerbangan dari Karachi, Pakistan, menuju Jeddah, Arab Saudi, dengan persinggahan di Riyadh untuk mengisi bahan bakar.
Menurut laporan investigasi kecelakaan yang dirujuk Federal Aviation Administration (FAA), api bermula di kompartemen kargo belakang berkode C-3. Kebakaran kemudian menembus lantai kabin dan menghasilkan asap beracun yang menyebar ke ruang penumpang.
Berbeda dengan kecelakaan ketika pesawat jatuh, tragedi ini terjadi setelah pesawat berhasil kembali ke bandara dan mendarat. Namun, rangkaian keputusan setelah pendaratan membuat upaya penyelamatan tidak sempat terlaksana.
Baca Juga: Qatar Minta Iran Buka Selat Hormuz demi Redakan Ketegangan dengan AS
Pesawat kembali ke Riyadh setelah muncul peringatan asap
Penerbangan Saudia 163 berangkat dari Riyadh menuju Jeddah pada 19 Agustus 1980. Sekitar tujuh menit setelah lepas landas, sistem peringatan memberikan sinyal adanya asap di kompartemen kargo C-3.
Awak pesawat kemudian memeriksa kondisi di bagian belakang kabin. Teknisi penerbangan Bradley Curtis mendapati api dan asap di area penumpang, tepat di atas kompartemen kargo tersebut.
Setelah menerima laporan itu, kapten memutuskan untuk kembali ke Riyadh. Awak pesawat juga menghubungi pengendali lalu lintas udara dan meminta petugas pemadam kebakaran bersiap menghadapi pendaratan darurat.
Dalam perjalanan kembali, api terus membesar. Awak kabin berusaha memadamkannya menggunakan alat pemadam api portabel, tetapi upaya tersebut tidak berhasil menghentikan penyebaran kebakaran.
Kondisi pesawat juga semakin sulit dikendalikan. Kapten melaporkan tuas pengatur daya mesin nomor dua macet dan memutuskan mematikan mesin tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Hampir US$ 2, Brent Masih di Atas US$ 113
Pesawat mendarat, tetapi evakuasi tidak segera dilakukan
Saudia Flight 163 mendarat di Riyadh sekitar pukul 21.36 waktu setempat. Namun, pesawat tidak langsung berhenti di landasan untuk memungkinkan penumpang dievakuasi.
Pesawat terus melaju hingga meninggalkan landasan dan berhenti di jalur taksi sekitar dua menit 40 detik kemudian. Kedua mesin yang terpasang di sayap masih menyala setelah pesawat berhenti, sehingga petugas penyelamat menghadapi kendala untuk mendekati dan membuka pintu pesawat.
Mesin akhirnya dimatikan sekitar pukul 21.42 waktu setempat. Meski pesawat sudah berhenti, api dan asap terus menyebar di dalam kabin.
Menurut laporan investigasi, petugas baru berhasil membuka pintu R2 sekitar 23 menit setelah seluruh mesin dimatikan. Saat itu, seluruh penumpang dan awak telah meninggal dunia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendaratan tidak serta-merta menjamin keselamatan penumpang. Dalam kasus ini, waktu yang dibutuhkan untuk menghentikan pesawat dan membuka pintu menjadi bagian penting dari rangkaian tragedi.
Tonton: Arab Saudi Bakal Simpan 9 Juta Barel Minyak Mentah di Singapura Mulai 2027
Investigasi ungkap faktor penyebab banyaknya korban
Otoritas penerbangan Arab Saudi menyimpulkan bahwa kebakaran bermula di kompartemen kargo C-3, tetapi sumber penyalaan api tidak dapat dipastikan.
Penyelidikan juga menemukan bahwa sistem perlindungan kebakaran pada kompartemen tersebut gagal menahan api sebagaimana yang diharapkan. Api menembus lapisan pelindung kargo, kemudian menyebar ke kabin penumpang. Asap yang dihasilkan mengandung zat beracun, termasuk karbon monoksida.
Selain faktor teknis, laporan investigasi mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap jatuhnya korban jiwa, antara lain:
1. Kapten dinilai tidak memanfaatkan seluruh awak pesawat secara efektif selama keadaan darurat.
2. Persiapan awak kabin untuk melakukan evakuasi segera setelah pendaratan dinilai tidak memadai.
3. Pesawat tidak dihentikan secepat mungkin di landasan untuk memungkinkan evakuasi.
4. Petugas pemadam kebakaran dan penyelamat dinilai belum memiliki perlengkapan serta pelatihan yang memadai untuk menangani keadaan darurat pada pesawat tersebut.
Laporan investigasi juga merekomendasikan perbaikan prosedur darurat, pelatihan awak, serta sistem perlindungan kebakaran pada kompartemen kargo pesawat.
Tragedi Saudia Flight 163 menjadi pengingat penting bagi industri penerbangan mengenai perlunya deteksi kebakaran yang efektif, koordinasi awak pesawat, kesiapan petugas penyelamat, dan prosedur evakuasi yang cepat dalam keadaan darurat.
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/10/27/203000565/kisah-tragis-saudia-163--pesawat-mendarat-tapi-seluruh-penumpangnya-tewas?page=all#page2.














