Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor atas sejumlah produk asal Korea Selatan menjadi 25%, menyusul mandeknya pengesahan kesepakatan dagang antara kedua negara di parlemen Korea Selatan.
Dalam unggahan di media sosial pada Senin (26/1/2026), Trump menuding legislatif Korea Selatan gagal memenuhi komitmen dalam perjanjian dagang dengan Washington.
Ia menegaskan tarif impor untuk sektor otomotif, kayu, farmasi, serta tarif resiprokal lainnya akan dinaikkan dari sebelumnya 15% menjadi 25%.
Baca Juga: Saham Otomotif Korea Selatan Tertekan Usai Trump Ancam Naikkan Tarif
“Legislatif Korea Selatan tidak memenuhi kesepakatannya dengan Amerika Serikat,” tulis Trump.
“Karena kesepakatan dagang bersejarah kita belum diberlakukan, saya memutuskan menaikkan tarif impor Korea Selatan.”
Trump tidak menjelaskan secara rinci kapan kebijakan kenaikan tarif tersebut akan mulai berlaku maupun pemicu spesifik yang melatarbelakanginya.
Pasar keuangan Korea Selatan langsung bereaksi negatif. Indeks acuan KOSPI melemah 0,7% pada perdagangan awal Selasa, sementara nilai tukar won terdepresiasi sekitar 0,5% terhadap dolar AS.
Pihak Gedung Putih dan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump tersebut.
Sementara itu, Kantor Kepresidenan Korea Selatan (Blue House) menyatakan Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan, yang saat ini berada di Kanada, akan segera bertolak ke AS untuk bertemu Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick. Kunjungan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 28–31 Januari 2026.
Blue House mengaku belum menerima pemberitahuan resmi terkait kenaikan tarif, namun pemerintah akan menggelar rapat lintas kementerian untuk membahas langkah antisipasi.
Baca Juga: Anta Resmi Kuasai 29% Puma, Transaksi US$1,8 Miliar Bikin Geger Industri Sportswear
Hingga kini, Partai Demokrat yang berkuasa di Korea Selatan juga belum memberikan pernyataan resmi.
Parlemen Korea Selatan dijadwalkan kembali menggelar sidang pembahasan undang-undang pada 3 Februari mendatang.
Ekspor Tertekan, Sektor Otomotif Paling Terdampak
Pada 2025, total ekspor Korea Selatan mencapai rekor tertinggi sebesar US$709,4 miliar, naik 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun ekspor ke Amerika Serikat justru turun 3,8% menjadi US$122,9 miliar, meski tetap menjadi pasar terbesar kedua setelah China.
Ekspor otomotif ke AS tercatat sebesar US$30,2 miliar atau sekitar 25% dari total ekspor Korea Selatan ke Negeri Paman Sam, namun nilainya turun 13,2% dibandingkan 2024.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Terancam Boikot? Eks Presiden FIFA Serukan Jauhi AS!
Dalam kesepakatan kerangka kerja yang dicapai tahun lalu, AS dan Korea Selatan sepakat memangkas tarif impor mobil dan suku cadang asal Korea Selatan menjadi 15% dari sebelumnya 25%, setara dengan tarif yang dikenakan pada produk Jepang. Tarif tersebut mulai berlaku pada 1 November 2025.
Jika kenaikan tarif benar-benar diterapkan, produsen otomotif seperti Hyundai Motor dan Kia diperkirakan akan terdampak signifikan. Saham Hyundai dan Kia masing-masing turun 3,5% dan 4,8% pada perdagangan awal Selasa.
General Motors, yang memproduksi sekitar 500.000 unit kendaraan per tahun di Korea Selatan dan sebagian besar diekspor ke AS, juga berpotensi terkena imbas.
Ketegangan Investasi dan Volatilitas Kebijakan Tarif
Korea Selatan sebelumnya tengah berupaya merealisasikan paket investasi senilai US$350 miliar ke sektor strategis AS, termasuk pembayaran tunai US$200 miliar secara bertahap dengan batas maksimal US$20 miliar per tahun guna menjaga stabilitas nilai tukar won.
Baca Juga: Badai Musim Dingin Lumpuhkan Perjalanan di AS, Ribuan Penerbangan Dibatalkan
Namun Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun-cheol awal bulan ini mengatakan realisasi investasi tersebut kemungkinan tertunda hingga paruh kedua 2026, di tengah pelemahan nilai won dan ketidakpastian hukum terkait kebijakan tarif Trump.
Analis Daol Investment & Securities, Yoo Ji-woong, menilai pernyataan Koo tersebut bisa memicu reaksi keras Trump.
Ekonom Atlantic Council, Josh Lipsky, menyebut langkah Trump mencerminkan ketidaksabarannya terhadap lambannya implementasi kesepakatan dagang, sekaligus menegaskan bahwa volatilitas tarif masih akan berlanjut.
“Pasar terlalu cepat berharap pada stabilitas tarif di 2026. Volatilitas itu sendiri sudah menjadi biaya bagi perekonomian global,” ujar Lipsky.













