kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,67   6,06   0.79%
  • EMAS888.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.17%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.12%

Trump bersedia menunggu penyelesaian kesepakatan dengan China pasca pemilu 2020


Jumat, 10 Januari 2020 / 10:07 WIB
Trump bersedia menunggu penyelesaian kesepakatan dengan China pasca pemilu 2020
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan tentang serangan rudal Iran terhadap pasukan pimpinan AS di Irak, di Foyer Besar di Gedung Putih di Washington, AS, 8 Januari 2020.

Sumber: CNBC | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan mungkin tidak akan mencapai tahap kedua dari pakta perdagangan dengan China sampai setelah pemilihan 2020.

Meskipun demikian, Trump bersedia menunggu melanjutkanya setelah pemilu bila ia kembali terpilih jadi presiden.

Mengutip CNBC, Trump mengatakan pemerintahannya akan segera menegosiasikan perjanjian berikutnya setelah mencapai apa yang disebut kesepakatan fase satu.

Baca Juga: DPR AS batasi kekuasaan Trump mengerahkan lebih lanjut militer menyerang Iran

Tetapi Trump mengatakan "akan butuh sedikit waktu" untuk menyelesaikan perjanjian dan menyarankan dia bisa memiliki lebih banyak pengaruh setelah pemilihan Presiden AS pada bulan November.

"Saya pikir saya mungkin ingin menunggu untuk menyelesaikannya sampai setelah pemilihan, karena dengan melakukan itu, saya pikir kita dapat membuat kesepakatan sedikit lebih baik, mungkin kesepakatan yang jauh lebih baik," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis (9/1).

Trump dan pejabat China berencana untuk menandatangani bagian awal perjanjian perdagangan yang telah lama dicari pada 15 Januari 2020.

Kesepakatan itu akan melibatkan beberapa pengurangan tarif, peningkatan pembelian barang-barang pertanian AS, Tiongkok, dan perubahan pada kekayaan intelektual dan aturan teknologi.

Baca Juga: AS-China meneken kesepakatan pekan depan, bursa Asia menghijau

Trump telah mendorong untuk perjanjian perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia saat ia mencoba menindaklanjuti janji kampanye 2016 untuk menindak pelanggaran perdagangan China.



TERBARU

[X]
×