Virus corona meredupkan bisnis, merek-merek global gugup dan panik

Kamis, 06 Februari 2020 | 14:02 WIB Sumber: CNN
Virus corona meredupkan bisnis, merek-merek global gugup dan panik

ILUSTRASI. Brand global Nike.

KONTAN.CO.ID - LONDON. Virus corona yang mulai mewabah sejak akhir Desember lalu di China memukul bisnis ritel. Banyak toko yang harus tutup karena jalan-jalan kosong. Alhasil merek-merek besar global menjadi gugup dan panik soal dampak virus corona terhadap bisnis mereka.

Sebut saja Nike, Adidas, Capri Holdings yang memiliki Versace, Jimmy Choo dan Michael Kors. Melansir CNN, mereka semua adalah sejumlah brand besar yang telah memperingatkan para investor pada pekan ini bahwa tingkat penjualan perusahaan dapat terpukul ketika virus menyebar ke seluruh China.

"Situasi di China dan langkah-langkah yang diambil untuk melindungi warga memiliki dampak material pada bisnis kami," John Idol, CEO Capri Holdings, mengatakan dalam sebuah pernyataan, Rabu, seperti yang dikutip dari CNN.

Baca Juga: Tak ada penerbangan, China berencana menjemput warganya di Bali

Wabah virus corona telah menewaskan hampir 500 orang dan menginfeksi lebih dari 24.500 orang - terutama di China.

Wabah ini juga memaksa para pelaku ritel untuk menutup usaha mereka sebagai upaya untuk menahan virus.

Menurut Idol, Sekitar 150 toko Capri di China daratan ditutup. Sementara, Nike mengatakan telah menutup sekitar setengah dari toko yang dimilikinya di China. Sedangkan Adidas mengatakan perusahaan dan para pemegang waralaba telah menutup sejumlah toko yang "signifikan".

Baca Juga: Sudah 10 hari lebih terkunci dari dunia luar, begini cara warga Wuhan menghibur diri

Di sisi lain, Nike dan Capri Holdings mengatakan, masih ada sejumlah toko yang tetap beroperasi. Namun, jam operasionalnya dikurangi dan jumlah pembeli semakin sedikit.

"Dalam jangka pendek, kami memperkirakan situasi akan berdampak material pada operasi kami di China," kata Nike dalam sebuah pernyataan Selasa, meskipun mencatat bahwa bisnis online-nya telah menunjukkan kekuatan yang terus berlanjut.

Hampir 18% dari penjualan Nike berasal dari wilayah China pada kuartal terakhir 2019. CEO John Donahoe mengatakan kepada CNBC, Rabu, "Prioritas pertama perusahaan sebagai sebuah perusahaan adalah untuk secara tegas menjaga mitra kami di China dan konsumen."

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru