WHO dan CDC Sepakat Penyakit Ini Jadi Ancaman Global Terbaru Akibat Pandemi

Kamis, 24 November 2022 | 07:26 WIB Sumber: Reuters
WHO dan CDC Sepakat Penyakit Ini Jadi Ancaman Global Terbaru Akibat Pandemi

ILUSTRASI. WHO dan CDC mengatakan, saat ini ada ancaman campak yang akan segera menyebar di berbagai wilayah secara global. REUTERS/Dado Ruvic


KONTAN.CO.ID - JENEWA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan kesehatan masyarakat (CDC) AS mengatakan pada Rabu (23/11/2022), bahwa saat ini ada ancaman campak yang akan segera menyebar di berbagai wilayah secara global. Hal ini dikarenakan COVID-19 menyebabkan penurunan yang stabil dalam cakupan vaksinasi dan melemahnya pengawasan penyakit.

Mengutip Reuters, campak adalah salah satu virus manusia yang paling menular dan hampir seluruhnya dapat dicegah melalui vaksinasi. Namun, diperlukan cakupan vaksin 95% untuk mencegah wabah di antara populasi.

Akan tetapi, berdasarkan laporan bersama WHO dan CDC, hampir 40 juta anak melewatkan dosis vaksin campak pada tahun 2021 karena rintangan yang diciptakan oleh pandemi COVID. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. 

Menurut pemimpin campak WHO, Patrick O'Connor, saat kasus campak belum meningkat secara dramatis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sekaranglah waktunya untuk bertindak.

Baca Juga: Inilah 10 Patogen Paling Mematikan di Dunia Menurut WHO, Penyakit X Bikin Penasaran

"Kami berada di persimpangan jalan. Ini akan menjadi 12-24 bulan yang sangat menantang untuk mencoba melakukan mitigasi ini," urainya.

Kombinasi faktor-faktor seperti langkah-langkah jarak sosial yang berkepanjangan dan sifat siklus campak dapat menjelaskan mengapa belum ada ledakan kasus meskipun kesenjangan kekebalan melebar. Akan tetapi, lanjutnya, kondisi itu dapat berubah dengan cepat. Sebab, campak menunjukkan sifat penyakit yang sangat menular. 

WHO telah melihat peningkatan wabah besar yang mengganggu sejak awal 2022, meningkat dari 19 menjadi hampir 30 pada September, kata O'Connor. Dia juga menambahkan dirinya sangat khawatir tentang bagian sub-Sahara Afrika.

 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru