Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia bergerak terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/10/2026).
Di tengah pergerakan yang cenderung datar, won Korea Selatan mencatat penguatan dan berada di level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Mengutip data Reuters pada pukul 02.08 GMT, won Korea Selatan menguat 0,31% ke level 1.336,16 per dolar AS, dari posisi sebelumnya 1.340,25 per dolar AS.
Baca Juga: Biaya Pengiriman Minyak AS ke China Turun dari Rekor Tertinggi
Penguatan juga terjadi pada yen Jepang yang naik 0,11% ke level 158,14 per dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,09% ke level 1,279 per dolar Singapura, sedangkan ringgit Malaysia naik 0,12% ke posisi 4,078 per dolar AS.
Baht Thailand bergerak tipis menguat 0,01% ke level 33,495 per dolar AS. Sementara itu, rupee India stagnan di level 96,73 per dolar AS.
Sebaliknya, dolar Taiwan melemah 0,29% ke posisi 31,967 per dolar AS. Peso Filipina juga turun 0,03% ke level 62,71 per dolar AS. Adapun yuan China relatif stabil di kisaran 6,693 per dolar AS.
Di kawasan Asia Tenggara, rupiah menguat tipis 0,03% ke level Rp 17.870 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 17.875 per dolar AS.
Meski demikian, secara kumulatif sejak akhir 2025, rupiah masih melemah 6,72% terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah lebih besar dibandingkan ringgit Malaysia yang melemah 0,54% dan yen Jepang yang turun 0,94% sepanjang periode tersebut.
Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Sejumlah Rudal Balistik, Ketegangan dengan Seoul Meningkat
Sebaliknya, won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar di antara mata uang yang tercantum dalam data, yakni 7,81% sejak akhir 2025. Yuan China juga menguat 4,41%, sedangkan dolar Singapura naik 0,48%.
Pergerakan tersebut memperlihatkan kinerja mata uang Asia yang beragam sepanjang tahun ini, dengan won Korea Selatan dan yuan China menguat terhadap dolar AS, sementara sejumlah mata uang lain, termasuk rupiah, masih berada dalam tren pelemahan.














