kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.736   51,00   0,29%
  • IDX 6.371   -228,56   -3,46%
  • KOMPAS100 843   -31,00   -3,55%
  • LQ45 635   -16,26   -2,50%
  • ISSI 228   -10,12   -4,25%
  • IDX30 361   -7,63   -2,07%
  • IDXHIDIV20 447   -8,36   -1,83%
  • IDX80 97   -3,13   -3,13%
  • IDXV30 125   -3,42   -2,67%
  • IDXQ30 117   -1,94   -1,63%

Yield Obligasi AS Melonjak, Bursa Global dan Harga Emas Tertekan


Rabu, 20 Mei 2026 / 05:52 WIB
Yield Obligasi AS Melonjak, Bursa Global dan Harga Emas Tertekan
ILUSTRASI. Wall Street / Bursa Saham AS. Penguatan dolar AS memicu kerugian di pasar emas, namun bisa jadi peluang lain. Pahami dampaknya pada investasi Anda sekarang.(REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham global melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026) seiring lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi akibat konflik Iran. 

Di sisi lain, harga minyak justru turun setelah muncul sinyal kemajuan negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington mungkin masih perlu melancarkan serangan ke Iran, meski sebelumnya ia menunda rencana serangan yang disebut tinggal menunggu satu jam sebelum dieksekusi. 

Trump juga menyebut Teheran telah mengajukan proposal baru untuk mengakhiri konflik dengan AS dan Israel.

Baca Juga: Emas Anjlok 2%, Yield Obligasi AS Naik Usai Iran Serang Kapal di Selat Hormuz

Wakil Presiden AS JD Vance menambahkan bahwa pembicaraan kedua negara menunjukkan kemajuan signifikan dan kedua pihak sama-sama ingin menghindari kelanjutan perang.

Meredanya kekhawatiran perang membuat harga minyak terkoreksi. Minyak Brent turun 82 sen menjadi US$111,28 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni yang berakhir Selasa melemah 89 sen menjadi US$107,77 per barel.

Namun, pasar saham tetap tertekan karena investor khawatir lonjakan harga energi akan memicu inflasi lebih tinggi dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bahkan menyentuh level tertinggi sejak 2007 di kisaran 5,18%, sementara yield obligasi tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.

Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, mengatakan kenaikan yield obligasi menjadi faktor utama yang menekan pasar saham. "Ujung panjang pasar obligasi terus naik dan itu membuat saham berada dalam tekanan," ujarnya.

Baca Juga: Perang AS-Iran Bisa Bikin Harga Emas Dunia Tembus ke Level US$ 6.000

Kenaikan yield meningkatkan biaya pinjaman dan memperbesar tingkat diskonto terhadap laba masa depan perusahaan, sehingga valuasi saham menjadi lebih rentan, terutama saham teknologi.

Pelaku pasar kini menanti laporan keuangan NVIDIA Corporation yang dijadwalkan rilis Rabu waktu setempat. Kinerja produsen chip AI terbesar dunia itu dipandang akan menjadi ujian penting bagi reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan. 

Investor juga menunggu laporan keuangan sejumlah peritel besar termasuk Walmart.

Di Wall Street, indeks Dow Jones turun 322,24 poin atau 0,65% ke 49.363,88. Indeks S&P 500 melemah 0,67% ke 7.353,61 dan Nasdaq terkoreksi 0,84% ke 25.870,71.

Indeks saham global MSCI turun 0,59% menjadi 1.091,79. Sementara itu, bursa saham Eropa justru menguat tipis dengan indeks STOXX 600 naik 0,19%, melanjutkan pemulihan setelah sempat terpukul gejolak pasar obligasi pada akhir pekan lalu.

Penguatan yield AS juga mendorong dolar AS menguat. Indeks dolar naik 0,34% ke 99,33, sementara euro turun 0,45% ke US$1,1602. Dolar juga menguat terhadap yen Jepang ke level 159,05 yen per dolar AS.

Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Redakan Tekanan Global, Harga Emas Melonjak

Pasar turut mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral global. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat karena investor menilai tekanan inflasi akibat harga energi berpotensi bertahan lebih lama.

Di Jepang, data terbaru menunjukkan ekonomi tumbuh 2,1% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa Bank of Japan dapat kembali menaikkan suku bunga pada Juni mendatang.

Sementara itu, harga emas melemah karena penguatan dolar AS. Emas berjangka AS untuk pengiriman Juni turun 1% menjadi US$4.511,20 per ons.




TERBARU

[X]
×