kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.577   24,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Yield Obligasi AS Tembus Level Tertinggi 11 Bulan, Antisipasi Suku Bunga The Fed


Jumat, 15 Mei 2026 / 09:53 WIB
Yield Obligasi AS Tembus Level Tertinggi 11 Bulan, Antisipasi Suku Bunga The Fed
ILUSTRASI. Dolar AS (Reuters/Marcos Brindicci)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi sejak Juni 2025 pada perdagangan Jumat (15/5/2026), seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan perlu kembali menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.

Melansir Reuters, kekhawatiran inflasi meningkat setelah perang Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian, meski gencatan senjata rapuh telah berlangsung lebih dari satu bulan.

Baca Juga: AS Sebut China Belum Sepenuhnya Longgarkan Ekspor Rare Earth

Konflik tersebut membuat Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar 20% arus minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, praktis lumpuh sejak akhir Februari dan mendorong harga minyak dunia tetap berada di atas US$100 per barel.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 4,52% pada perdagangan Asia, tertinggi sejak awal Juni 2025. Terakhir, yield tercatat naik 5,7 basis poin menjadi 4,518%.

Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun menyentuh level 5,061%, tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Adapun yield obligasi tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, naik ke level 4,055% atau tertinggi sejak Juni 2025.

Baca Juga: Bursa Asia Tergelincir saat Imbal Hasil AS Tembus Level Tertinggi dalam Setahun

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Menguat

Pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 33% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Angka tersebut meningkat dibandingkan pekan lalu yang hanya sekitar 20,7%, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Perubahan ekspektasi ini cukup signifikan mengingat sebelumnya pelaku pasar justru memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali pada 2026.

Data inflasi AS yang dirilis pekan ini menunjukkan tekanan harga kembali meningkat, terutama dipicu kenaikan biaya energi.

Baca Juga: Taiwan Apresiasi Dukungan AS di Tengah Lanjutan Pembicaraan Trump–Xi

Ekonom ING James Knightley menilai, harga energi kemungkinan tetap tinggi sepanjang 2026 meskipun Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat.

“Bahkan jika ada kesepakatan yang memungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali, kami memperkirakan harga energi masih akan tetap tinggi sepanjang 2026,” ujar Knightley.

Ia menambahkan, tingginya harga energi di tengah lemahnya pertumbuhan lapangan kerja dan upah berpotensi menggerus daya beli masyarakat AS dan menekan pertumbuhan konsumsi pada paruh kedua tahun ini.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×