kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Yuan keok, China menghemat stimulus untuk perang dagang


Senin, 12 Agustus 2019 / 12:20 WIB

Yuan keok, China menghemat stimulus untuk perang dagang
ILUSTRASI. Uang yuan China

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China saat ini tampak menahan diri untuk melepaskan senjata besar stimulus moneter. Yakni dengan menjaga opsi pada cadangan devisa jika terjadi risiko kebuntuan perdagangan dengan AS yang kemudian menjelma menjadi perang mata uang global.

The People's Bank of China pada Jumat  (9/8) menyerukan pandangan "rasional" di tengah kondisi yang rentan saat ini. Hal tersebut menandakan bahwa pendekatan yang ditargetkan untuk menopang produksi akan terus berlanjut. Data investasi, penjualan ritel, dan kredit yang dijadwalkan akan dirilis minggu ini diramal akan mengonfirmasi pelambatan yang sedang berlangsung di negara dengan perekonomian kedua terbesar di dunia tersebut.

Baca Juga: Hubungan AS dan China Kian Runcing, dari Perang Dagang, Taiwan, Kini Soal Hong Kong

Pemerintah China masih tetap memilih untuk menjalankan strategi moneter hati-hati meski ketegangan dengan AS memburuk nantinya. Pada saat yang sama, pelemahan yuan melampaui level 7 per dollar AS menghilangkan satu penghalang untuk memangkas suku bunga acuan jika perang dagang memburuk ke titik di mana aksi yang kuat sangat dibutuhkan. 

"Pemerintah China baik-baik saja dengan kondisi perekonomian saat ini. Namun jika pertumbuhan terus melambat, pada titik tertentu, prioritas akan berubah untuk meningkatkan stabilisasi pertumbuhan," jelas Larry Lu, head of China economics Macquarie Securities Ltd di Hong Kong seperti yang dikutip dari India Times.

Mantan pimpinan bank sentral China berkumpul dalam sebuah simposium kebijakan di Yichun, Heilongjiang dan mengingatkan bahwa konfrontasi dengan AS kian dalam. 

Baca Juga: Trump menghambat ambisi Xi membawa China menuju negara superpower 2050

"Pemberian label manipulator mata uang oleh AS menggarisbawahi bahwa perang dagang telah menjelma menjadi perang finansial dan perang mata uang. Pemerintah China harus bersiap untuk konflik jangka panjang," jelas Chen Yuan, mantan deputi bank sentral China.

Sementara itu, mantan Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan mengimbau untuk dilakukannya upaya memperbaiki peran yuan dalam perekonomian global sehingga dapat menghadapi tantangan dalam sistem finansial yang didominasi oleh dollar.

Baca Juga: Goldman: Gara-Gara Perang Dagang, Kecemasan akan Resesi AS Kian Tinggi

Tantangan tersebut tidak hanya datang dari dollar. Badan Moneter Internasional mengatakan dalam laporan tahunannya mengenai perekonomian China, jika AS kembali meningkatkan ancaman pajak impornya dari 10% menjadi 25%, pertumbuhan China akan terpangkas sebesar 0,8%, dan bisa berdampak signifikan terhadap perekonomian global. 

Dalam skenario itu, China kemungkinan harus melakukan kebijakan yang agresif, meski harus menghadapi risiko peningkatan  utang domestik dan menggelembungnya harga aset. Mengutip data yang dirilis Institute of International Finance pada bulan lalu, upaya untuk mendongkrak pertumbuhan sudah mendongkrak utang perusahaan, rumah tangga dan pemerintah melampaui 300% dari Produk Domestik Bruto (PDB). 


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0022 || diagnostic_web = 0.1407

Close [X]
×