: WIB    —   
indikator  I  

Bangkit setelah bisnisnya nyaris bangkrut (3)

 Bangkit setelah bisnisnya nyaris bangkrut (3)

Namanya berbisnis, tak selamanya mendatangkan untung. Ada kalanya pula buntung. Begitu pula pengalaman Daryl Katz saat menjalankan bisnis apotek. Miliarder ini pernah merugi gara-gara salah kelola jaringan apotek SnyderS Drug yang ia beli. Bahkan Daryl pernah mengajukan kebangkrutan atas SnyderS Drug. Sempat mendapat nafas kembali, tapi tak bertahan lama. Akhirnya ia menjual jaringan apotek SnyderS Drug ke raksasa bisnis farmasi di Amerika Serikat.

Daryl Katz membawa Katz Group tumbuh besar menjadi pemain toko obat yang cukup diperhitungkan di Kanada sejak tahun 1990-an. Berbagai akuisisi perusahaan toko obat ia lakukan sebagai salah satu strategi pertumbuhan anorganik. Setelah membeli hak waralaba Rexall yang cukup bergengsi di bisnis ini, sejumlah aksi lain terus ia lakukan.

Tak lama berselang setelah memiliki hak untuk memasang merek Rexall, Daryl kembali berekspansi. Kali ini ia membeli jaringan apotek milik Pharma Plus yang memiliki 143 toko. Untuk akuisisi ini, ia harus merogoh kantong sebesar US$ 100 juta.

Pembelian Pharma Plus ini membuka strategi baru Daryl dalam berekspansi. Kini ia mengincar perusahaan toko obat yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Pharma Plus sendiri mencatatkan kerugian selama tiga tahun berturut-turut.

Namun tak selamanya langkah yang ia ambil ambil berakhir manis. Daryl pun pernah merugi setelah mengambil langkah yang besar. Salah satunya saat membeli SnyderS Drug pada 1999.

Keputusannya membeli SnyderS Drug sendiri didasari oleh hasratnya untuk makin menancapkan kuku di pasar farmasi Amerika Serikat (AS). Untuk akuisisi ini, sebanyak 141 toko yang dimiliki SnyderS Drug resmi masuk ke dalam jaringan bisnis yang dimilikinya.

Sama seperti Pharma Plus, SnyderS Drug juga saat itu sedang mengalami masalah keuangan karena kerap merugi. Meski begitu, Daryl menilai bahwa perusahaan tersebut masih punya potensi mendatangkan pundi-pundi uang lantaran pendapatan tahunannya saja masih bisa mencapai US$ 300 juta.


Reporter Tendi Mahadi
Editor Tri Adi

DARYL KATZ

Feedback   ↑ x
Close [X]