kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Kesepakatan Dagang AS-Taiwan, Industri Cip Terancam Oposisi?


Sabtu, 14 Februari 2026 / 04:40 WIB
Kesepakatan Dagang AS-Taiwan, Industri Cip Terancam Oposisi?
ILUSTRASI. USA-TRUMP/ (REUTERS/Jonathan Ernst)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi mengunci tarif impor 15% untuk produk asal Taiwan dalam perjanjian dagang resiprokal final yang diteken pekan ini. Sebagai imbalannya, Taiwan sepakat membuka pasar lebih lebar bagi produk Amerika Serikat (AS) dan meningkatkan pembelian barang-barang AS dalam jumlah jumbo.

Melansir Reuters (13/2), dokumen yang dirilis Kantor Perwakilan Dagang AS menyebutkan, Taiwan berkomitmen menaikkan impor dari AS sepanjang 2025–2029. Daftarnya tidak main-main, yakni US$ 44,4 miliar untuk gas alam cair (LNG) dan minyak mentah, US$ 15,2 miliar untuk pesawat sipil dan mesin, serta US$ 25,2 miliar untuk peralatan jaringan listrik, generator, perlengkapan kelautan hingga peralatan industri baja.

Kesepakatan ini mempertegas kerangka perjanjian Januari lalu yang memangkas tarif produk Taiwan termasuk dari industri semikonduktor andalannya dari 20% menjadi 15%. Artinya, posisi Taiwan kini disetarakan dengan pesaing utamanya di Asia seperti Korea Selatan dan Jepang.

Presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan momen ini sebagai titik balik. “Ini adalah momen penting bagi ekonomi dan industri Taiwan untuk menunggangi angin perubahan dan menjalani transformasi besar,” tulisnya di Facebook. Ia menilai perjanjian ini akan memperkuat rantai pasok industri dan membangun kemitraan strategis teknologi tinggi Taiwan dan AS.

Namun, di balik optimisme itu, ada catatan penting. Perjanjian ini masih harus disetujui parlemen Taiwan, di mana oposisi memegang mayoritas. Artinya, jalur politik domestik bisa menjadi batu sandungan berikutnya.

Baca Juga: Bank Sentral Rusia Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 15,5%

Janji Investasi

Selain komitmen impor, Taiwan sebelumnya juga menjanjikan investasi US$ 250 miliar untuk meningkatkan produksi semikonduktor, energi, dan kecerdasan buatan (AI) di AS. Dari angka itu, US$ 100 miliar telah lebih dulu dikomitmenkan oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing Company. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick bahkan menyebut pemerintah Taiwan akan menjamin tambahan investasi US$ 250 miliar lainnya.

Dalam naskah final, detail investasi belum diperinci. Namun, kantor perwakilan Taiwan di AS disebut akan memfasilitasi proyek greenfield dan brownfield di sektor strategis seperti AI, semikonduktor, dan elektronik canggih.

Dari sisi akses pasar, Taiwan sepakat menghapus tarif hingga 26% atas banyak produk pertanian AS, termasuk daging sapi, susu, dan jagung. Meski begitu, beberapa tarif sensitif seperti 40% untuk pork belly dan 32% untuk ham hanya dipangkas menjadi 10%. Taiwan juga akan menghapus hambatan non-tarif kendaraan bermotor dan mengakui standar keselamatan otomotif, alat kesehatan, serta farmasi AS.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menegaskan, perjanjian ini akan memperluas peluang ekspor bagi petani, peternak, nelayan, pekerja, dan manufaktur AS. “Kesepakatan ini juga akan secara signifikan meningkatkan ketahanan rantai pasok kami, terutama di sektor teknologi tinggi,” ujarnya.

Di balik retorika kemitraan strategis, ada persoalan struktural yang belum terjawab, defisit perdagangan AS dengan Taiwan yang terus membengkak. Data United States Census Bureau menunjukkan, dalam 11 bulan pertama 2025, defisit AS terhadap Taiwan melonjak menjadi US$ 126,9 miliar, dari US$ 73,7 miliar sepanjang 2024. Lonjakan impor cip AI kelas atas dari Taiwan menjadi penyumbang utama.

Pertanyaannya, apakah tarif 15% dan komitmen belanja energi cukup untuk menyeimbangkan arus perdagangan yang timpang? Atau justru AS tetap bergantung pada pasokan cip Taiwan, sementara Taiwan makin terikat pada pasar dan investasi AS?

Bagi Taiwan, kesepakatan ini memberi kepastian tarif dan akses pasar di tengah rivalitas dagang global. Bagi AS, ini adalah langkah mengamankan rantai pasok teknologi tinggi sekaligus membuka pasar ekspor. Namun, keseimbangan manfaatnya baru akan teruji dalam beberapa tahun ke depan ketika angka investasi dan impor benar-benar terealisasi, bukan sekadar janji di atas kertas.

Baca Juga: Skandal McDonald's India Pakai Minyak Tak Layak dan Tomat Busuk

Selanjutnya: Terungkap! 5 Fitur HyperOS 3 Bikin Android 16 di Xiaomi Jauh Beda

Menarik Dibaca: Jadwal KRL Jogja Solo Akhir Pekan 14-15 Februari 2026, Ini Jam Malamnya


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×