Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sebuah pesawat militer Amerika Serikat (AS) jatuh di wilayah barat Irak pada Kamis (12/3/2026). Insiden tersebut terjadi saat operasi militer berlangsung di kawasan Timur Tengah di tengah konflik dengan Iran.
Dalam pernyataannya, United States Central Command menyatakan pesawat pengisian bahan bakar di udara jenis Boeing KC-135 Stratotanker mengalami kecelakaan saat menjalankan misi.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik ke US$5.112,34 Jumat (13/3) Pagi, Didukung Pelemahan Dolar
Otoritas militer AS kini tengah melakukan upaya penyelamatan terhadap awak pesawat tersebut.
Militer AS menyebut insiden itu melibatkan pesawat lain, namun bukan akibat serangan musuh maupun tembakan dari pihak sendiri.
“Insiden terjadi di wilayah udara yang bersahabat selama berlangsungnya Operasi Epic Fury,” kata CENTCOM dalam pernyataan resminya.
Operasi tersebut merupakan nama misi militer Amerika Serikat dalam serangan terhadap Iran.
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan pesawat lain yang terlibat dalam insiden itu juga merupakan KC-135 dan berhasil mendarat dengan selamat. Pesawat yang jatuh diperkirakan membawa hingga enam personel militer.
Baca Juga: Trump Sebut Timnas Iran Tak Pantas Tampil di Piala Dunia 2026 Demi Keamanan
Kelompok bersenjata pro-Iran yang tergabung dalam Islamic Resistance in Iraq mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat tersebut.
Dalam pernyataannya, kelompok tersebut mengklaim telah menembak jatuh pesawat KC-135 “untuk mempertahankan kedaulatan dan wilayah udara Irak”.
Pesawat KC-135 yang diproduksi oleh Boeing pada era 1950-an hingga awal 1960-an merupakan tulang punggung armada pengisian bahan bakar udara militer AS.
Pesawat ini memungkinkan pesawat tempur melakukan misi jarak jauh tanpa harus mendarat untuk mengisi bahan bakar.
Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, sedikitnya tujuh tentara AS dilaporkan tewas. Militer AS juga disebut telah menyerang lebih dari 6.000 target di Iran.
Baca Juga: Trump Sebut AS Bisa Untung dari Lonjakan Harga Minyak, Picu Kritik dari Politisi
Menurut laporan Reuters sebelumnya, sekitar 150 tentara AS juga mengalami luka-luka sejak konflik AS-Israel melawan Iran dimulai.
Berita kecelakaan ini muncul pada hari yang sama ketika dua pelaut AS mengalami luka setelah kapal induk USS Gerald R. Ford mengalami kebakaran yang tidak terkait pertempuran.
Secara keseluruhan, konflik yang berlangsung sejauh ini telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di kawasan Timur Tengah, termasuk hampir 700 korban jiwa di Lebanon.













