Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. British American Tobacco (BAT) menaikkan proyeksi pendapatan dari produk alternatif rokok, seperti vape, setelah adanya perubahan kebijakan signifikan di Amerika Serikat. Namun, perusahaan mempertahankan panduan keuangan kelompok secara keseluruhan, yang membuat sahamnya turun lebih dari 2% pada perdagangan awal Selasa.
Perusahaan pembuat rokok Lucky Strike dan Dunhill itu menyatakan pendapatan dan laba operasi yang disesuaikan untuk tahun penuh diperkirakan tetap berada di ujung bawah panduannya, yaitu 3%-5% untuk pendapatan dan 4%-6% untuk laba operasi.
Di AS, pasar terbesar BAT, penjualan terbatas akibat kewajiban bagi produsen produk nikotin baru, seperti vape Vuse dan kantong nikotin Velo, untuk mendapatkan lisensi dari regulator proses yang memakan waktu dan menunda peluncuran produk. Namun, bulan lalu FDA mengumumkan akan menggunakan enforcement discretion, atau kebijakan toleransi sementara, terhadap produk yang belum berlisensi asalkan aplikasi lisensi mereka memenuhi standar tertentu.
Baca Juga: Bank of Thailand Proyeksi Ekonomi Tumbuh 2% di 2026, Suku Bunga Bakal Ditahan
“Kami menyambut panduan prioritas terbaru dari FDA sebagai langkah penting untuk penegakan yang efektif dan memperluas akses pasar bagi produk yang bertanggung jawab. Kami aktif mempersiapkan portofolio Modern Oral dan Vapour untuk pasar,” kata CEO BAT, Tadeu Marroco.
BAT memperkirakan pertumbuhan pendapatan dari produk alternatif pada paruh pertama dan sepanjang tahun ini akan berada di kisaran pertengahan belasan persen, naik dari perkiraan sebelumnya di angka pertumbuhan dua digit rendah.
Perusahaan ini mencatat kehilangan pangsa pasar rokok di tujuh pasar utama, termasuk AS, di mana konsumen beralih ke produk dengan harga lebih rendah. BAT juga memperkirakan volume industri tembakau global turun 2,5% tahun ini, lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
Barclays menyebut beberapa investor sebelumnya berharap adanya kenaikan panduan pendapatan, namun BAT bersikap hati-hati mengingat dampak tidak pasti dari konflik di Iran. Perusahaan ini menambahkan meski saat ini bisnisnya belum terdampak signifikan, volatilitas sentimen konsumen tetap menjadi risiko jika ketidakpastian berlanjut.













