kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Trump Sebut AS Bisa Untung dari Lonjakan Harga Minyak, Picu Kritik dari Politisi


Jumat, 13 Maret 2026 / 08:25 WIB
Trump Sebut AS Bisa Untung dari Lonjakan Harga Minyak, Picu Kritik dari Politisi
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump (via REUTERS/LAURENT GILLIERON)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan negaranya berpotensi memperoleh keuntungan besar dari lonjakan harga minyak yang dipicu perang dengan Iran.

Pernyataan tersebut menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen yang menilai Trump hanya memikirkan kepentingan kalangan kaya.

Harga minyak melonjak lebih dari 9% hingga mencapai US$100 per barel setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran meluas.

Baca Juga: Bursa Australia Melemah di Tengah Kekhawatiran Inflasi, Saham Northern Star Anjlok

Dua kapal tanker minyak terbakar di sebuah pelabuhan Irak setelah diduga diserang perahu bermuatan bahan peledak milik Iran, sementara puluhan kapal tanker lainnya tertahan karena jalur pelayaran Selat Hormuz ditutup.

Dalam unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia akan diuntungkan ketika harga minyak naik.

“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh melampaui negara lain. Jadi ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang,” tulis Trump.

Meski demikian, ia menegaskan menghentikan Iran memperoleh senjata nuklir jauh lebih penting.

Pernyataan tersebut langsung mendapat kritik dari Senator Partai Demokrat Mark Kelly. Ia menilai masyarakat pekerja Amerika justru menjadi pihak yang paling dirugikan akibat perang tersebut.

“Satu-satunya pihak yang diuntungkan dari lonjakan harga bensin adalah perusahaan minyak besar. Tapi tidak heran Trump senang, karena dia hanya peduli pada orang kaya,” tulis Kelly di platform X.

Baca Juga: Undang-Undang Baru China Soal Persatuan Etnis Picu Alarm di Taiwan

Komentar serupa juga disampaikan anggota DPR dari Partai Demokrat, yaitu Mark Pocan dan Don Beyer.

Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Gedung Putih Kush Desai menyebut pernyataan para politisi tersebut sebagai “konyol”.

Ia mengatakan harga minyak dan gas akan turun kembali setelah gangguan jangka pendek akibat konflik berakhir.

Menurut Desai, pernyataan Trump hanya menegaskan bahwa Amerika Serikat kini menjadi produsen minyak dan gas terbesar di dunia sekaligus eksportir bersih energi berkat kebijakan dominasi energi pemerintahannya.

Harga bensin di AS melonjak

Di sisi lain, harga bensin di Amerika Serikat terus meningkat pada hari ke-13 sejak perang pecah. Kenaikan tersebut tetap terjadi meski lebih dari 30 negara anggota International Energy Agency, termasuk AS, sepakat melepas cadangan minyak strategis global sebesar 400 juta barel.

Pemerintah AS juga mempertimbangkan untuk sementara waktu mencabut aturan pelayaran domestik yang dikenal sebagai Jones Act.

Baca Juga: Dolar AS Berpeluang Catat Kenaikan Mingguan Kedua di Tengah Perang Iran

Kebijakan ini bertujuan memastikan distribusi energi dan produk pertanian antar pelabuhan di AS tetap lancar.

Jika aturan tersebut ditangguhkan, kapal asing dapat mengangkut bahan bakar antar pelabuhan AS sehingga biaya logistik berpotensi turun dan distribusi lebih cepat.

Senator Partai Republik Thom Tillis mengatakan meskipun pemerintah mungkin melihat dampak perang dalam jangka panjang, banyak warga Amerika saat ini harus menghadapi tekanan anggaran rumah tangga akibat kenaikan harga energi.

Harga minyak US$200 dinilai kecil kemungkinan

Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan harga minyak kemungkinan kecil mencapai US$200 per barel, meskipun konflik masih berlangsung.

“Saya akan mengatakan itu tidak mungkin, tetapi fokus kami saat ini adalah operasi militer dan menyelesaikan masalahnya,” kata Wright kepada CNN ketika ditanya kemungkinan harga minyak mencapai US$200 per barel.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Turun 1,7% Jumat (13/2), di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Angka tersebut sebelumnya disebut oleh pejabat Iran sebagai potensi harga jika konflik terus meningkat.

Harga minyak Brent sendiri pernah mencapai rekor sekitar US$147 per barel pada 2008, dipicu ketegangan antara Barat dan Iran terkait program nuklirnya, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran inflasi.

Namun kali ini, analis menilai harga minyak dapat tetap tinggi karena penutupan Selat Hormuz yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, bahkan menyatakan jalur pelayaran tersebut harus tetap ditutup sebagai alat tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah AS menyatakan fokus utamanya saat ini adalah menjaga keamanan aliran energi global sambil mencari solusi praktis untuk mengatasi gangguan pasokan energi dalam jangka pendek.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×