Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Futures indeks saham Amerika Serikat bergerak melemah pada Kamis (12/3) seiring lonjakan harga minyak mentah yang mendekati level US$100 per barel.
Kenaikan harga energi tersebut memicu kembali kekhawatiran inflasi serta mendorong pelaku pasar untuk mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS tahun ini.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh laporan serangan terhadap dua kapal tanker di perairan Irak yang diduga terkait dengan Iran. Insiden tersebut merupakan bagian dari gelombang serangan yang lebih luas terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melonjak hingga US$200 per barel jika konflik semakin meluas.
Baca Juga: Bursa Saham Negara Berkembang Ambruk Tertekan Perang Iran Terus Berlanjut
Saham Maskapai dan Pariwisata Tertekan
Kenaikan harga minyak secara langsung menekan sektor yang sensitif terhadap biaya energi, terutama maskapai penerbangan. Indeks saham maskapai dalam S&P 500 diperkirakan mencatat penurunan bulanan terbesar dalam satu tahun terakhir.
Pada perdagangan pra-pasar, saham American Airlines dan Southwest Airlines masing-masing turun lebih dari 1%. Tekanan juga terlihat pada sektor pariwisata, dengan saham operator kapal pesiar Norwegian Cruise Line dan Royal Caribbean turut mengalami penurunan.
Sebaliknya, perusahaan energi mendapat sentimen positif dari lonjakan harga minyak. Saham Occidental Petroleum dan EQT Corporation tercatat menguat tipis dalam perdagangan awal.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Mundur
Ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak juga berdampak pada ekspektasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. Bank investasi Goldman Sachs menunda proyeksi pemangkasan suku bunga pertama oleh Federal Reserve menjadi September, dari sebelumnya diperkirakan pada Juni.
Data futures pasar uang kini menunjukkan pelaku pasar hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga Desember. Sebelumnya, investor memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sebelum konflik geopolitik memanas.
Menurut tim analis yang dipimpin Jim Reid dari Deutsche Bank, pasar semakin mengantisipasi konflik yang berkepanjangan dengan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Investor semakin memperhitungkan kemungkinan konflik yang lebih lama dan menimbulkan kerusakan ekonomi yang signifikan,” tulis mereka dalam catatan riset.
“Tanpa tanda-tanda de-eskalasi yang jelas, harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko guncangan stagflasi yang lebih luas,” tambahnya.
Baca Juga: Di Tengah Konflik, India Klaim Iran Izinkan Kapal Tankernya Lewat Hormuz
Pasar Global Bergejolak
Sepanjang bulan ini, pasar keuangan global mengalami volatilitas tinggi setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mengganggu pasokan minyak dunia. Lonjakan harga energi tersebut mempersulit rencana banyak bank sentral global yang sebelumnya bersiap melonggarkan kebijakan moneter.
Pada pukul 04.49 waktu New York, kontrak berjangka Dow Jones turun 262 poin atau 0,55%. Sementara itu, futures S&P 500 melemah 29,75 poin atau 0,44%, dan Nasdaq 100 turun 109,75 poin atau 0,44%.
Indeks volatilitas CBOE (VIX), yang sering disebut sebagai “fear gauge” Wall Street, naik 1,01 poin ke level 25,24. Sementara futures indeks saham small-cap Russell yang sensitif terhadap suku bunga tercatat turun lebih dari 1%.
AS Luncurkan Investigasi Perdagangan Baru
Di tengah ketidakpastian pasar, pemerintah AS juga mengumumkan peluncuran dua investigasi perdagangan baru. Penyelidikan tersebut menargetkan kelebihan kapasitas industri di 16 mitra dagang utama serta dugaan praktik kerja paksa.
Langkah ini dipandang sebagai upaya Washington untuk kembali meningkatkan tekanan tarif setelah Mahkamah Agung AS bulan lalu membatalkan sebagian besar program tarif yang diterapkan Presiden Donald Trump.
Kekhawatiran di Pasar Kredit Swasta
Selain isu geopolitik, investor juga mencermati risiko di pasar kredit swasta global yang diperkirakan bernilai sekitar US$2 triliun. Dalam beberapa bulan terakhir, muncul sejumlah masalah kredit yang memicu kekhawatiran mengenai kinerja pinjaman dan kemampuan peminjam menghadapi suku bunga tinggi.
Glendon Capital Management menilai sejumlah pemberi pinjaman kredit swasta, termasuk Blue Owl, diduga menyembunyikan kelemahan dalam portofolio mereka, menurut laporan Financial Times.
Baca Juga: Bursa Saham Eropa Melemah, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
Morgan Stanley pada Rabu membatasi penarikan dana (redemption) di salah satu dana kredit swastanya, sementara JPMorgan Chase menurunkan valuasi beberapa pinjaman terkait dana kredit swasta.
Saham Blackstone tercatat turun 0,6%, sedangkan Blue Owl melemah sekitar 0,8%.
Bumble Melonjak Usai Laporan Keuangan
Di sisi lain, saham perusahaan aplikasi kencan Bumble melonjak 24% setelah melaporkan pendapatan kuartal keempat yang melampaui ekspektasi analis.
Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis dalam waktu dekat. Pada Kamis, pasar akan mencermati data klaim pengangguran mingguan serta komentar dari Wakil Ketua Federal Reserve untuk Pengawasan, Michelle Bowman.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada rilis data Personal Consumption Expenditure (PCE) pada Jumat, yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.













