kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.894   85,00   0,51%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi


Senin, 02 Maret 2026 / 22:57 WIB
Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) melonjak pada Senin (2/3). Setelah harga minyak dan gas naik tajam menyusul serangan militer ASdan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan Teheran di berbagai wilayah Timur Tengah.

Perang udara AS-Israel terhadap Iran meluas tanpa kepastian akhir. Israel juga menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Iran menembakkan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk dan pangkalan udara Inggris di Siprus.

Baca Juga: PMI Manufaktur AS Tetap Ekspansif di Februari 2026, Tekanan Harga Kian Menguat

Dalam pengarahan resmi pertama Pentagon sejak kampanye dimulai, Menteri Pertahanan Pete Hegseth tidak menetapkan jangka waktu berakhirnya operasi militer, setelah Presiden Donald Trump menyatakan serangan udara bisa berlangsung berminggu-minggu.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Surut

Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga berpotensi menunda pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin atau lebih pada pertemuan Juni turun menjadi 46,9%, dari 57,4% pada sesi sebelumnya.

Harga minyak sempat melonjak hingga 13% sebelum memangkas kenaikan. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 5,71% ke US$70,90 per barel, sementara Brent menguat 7,19% ke US$78,16 per barel.

Baca Juga: Pentagon: Operasi ke Iran Bukan “Perang Tanpa Akhir”

Yield Treasury Naik Tajam

Yield obligasi Treasury tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, naik 8,8 basis poin menjadi 3,467% kenaikan harian terbesar sejak 29 Oktober.

Sementara itu, yield obligasi acuan 10 tahun naik 7,6 basis poin menjadi 4,038%, terbesar sejak 1 Desember. Yield obligasi tenor 30 tahun juga meningkat 5,5 basis poin menjadi 4,688%.

Selisih antara yield dua tahun dan 10 tahun indikator ekspektasi ekonomi tercatat positif 56,9 basis poin.

Data Manufaktur Tambah Tekanan

Kenaikan yield juga dipicu data manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan PMI manufaktur Februari berada di level 52,4, sedikit berubah dari 52,6 pada Januari dan tetap di zona ekspansi.

Namun, indeks harga yang dibayar pabrikan melonjak ke level tertinggi dalam hampir 3,5 tahun, memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan meningkat, terutama akibat dampak tarif dan kenaikan harga energi.

Baca Juga: Apple Inc. Luncurkan iPhone 17e, Harga Mulai US$599 dengan Storage 256GB

Di pasar obligasi inflasi, tingkat breakeven lima tahun pada Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) naik menjadi 2,483% dari 2,439% pada Jumat.

Sementara breakeven 10 tahun berada di 2,267%, mengindikasikan pasar memperkirakan inflasi rata-rata sekitar 2,3% per tahun dalam satu dekade mendatang.

Kombinasi eskalasi geopolitik dan tekanan harga energi kini menjadi faktor utama yang membentuk arah pasar obligasi dan ekspektasi kebijakan moneter AS ke depan.




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×