: WIB    --   
indikator  I  

Terlalu ambisius, Arab revisi reformasi ekonomi

Terlalu ambisius, Arab revisi reformasi ekonomi

KONTAN.CO.ID - Setahun setelah dipublikasikan ke khalayak luas, Arab Saudi merevisi strategi reformasi utamanya. Yakni dengan memperpanjang waktu sejumlah target dan meniadakan sejumlah program lainnya.

Berdasarkan sebuah dokumen yang bocor ke Financial Times, Arab Saudi melakukan amandemen Program Transformasi Nasional. Dijelaskan, ada sejumlah program yang dihapus dan ada pula penambahan program lainnya.

Sekadar mengingatkan, Program Transformasi Nasional merupakan bagian dari program reformasi menuju "Visi 2030" Arab Saudi yang diumumkan pada tahun lalu oleh Deputi Putra Mahkota Mohammad bin Salman.

Dokumen tersebut juga melaporkan perkembangan terkini sejumlah program untuk merombak perekonomian dan mengurangi ketergantungan negara tersebut terhadap minyak.

Program tersebut bertujuan menerapkan kebijakan yang akan menghilangkan ketergantungan Arab Saudi atas minyak pada 2020. Hal ini meliputi privatisasi aset-aset negara, menciptakan 1,2 juta lapangan kerja sektor swasta, dan mengurangi angka pengangguran dari 11,6% menjadi 9%.

Namun berdasarkan informasi orang dalam, pengumuman penundaan yang dilakukan pada Kamis (7/9) kemarin menggarisbawahi ambisi dari program besar tersebut. Data yang dirilis OPEC menunjukkan, sebagai negara eksportir minyak terbesar dunia, sektor minyak dan gas Arab Saudi menyumbang sekitar 85% pendapatan ekspor dan sekitar 50% Produk Domestik Bruto negara tersebut.

"Ada ditemukan bahwa banyak sekali target yang ditetapkan terlalu agresif dan berdampak besar bagi perekonomian," jelas seorang penasehat pemerintah Arab Saudi kepada Financial Times.

Asal tahu saja, perekonomian Arab Saudi sudah mengalami tekanan akibat anjloknya harga minyak dunia sejak pertengahan 2014. Arab Saudi pula yang memimpin pemangkasan produksi minyak OPEC dengan tujuan mengangkat kembali harga minyak. Data yang dirilis Badan Moneter Internasional (IMF) memprediksi, ekonomi negara kerajaan ini hanya akan tumbuh sebesar 0,1% pada tahun ini. Sebagai perbandingan, tahun lalu, ekonomi Arab Saudi berhasil tumbuh 1,7%.

Dokumen pemerintah Arab Saudi juga menyebut, batas waktu pelaksanaan Program Transformasi Nasional akan dilanjutkan hingga 2020. Namun, implementasi atas proyek tertentu akan diperpanjang antara 2025 dan 2030.

Meski demikian, penasihat pemerintahan telah memberikan masukan, dilakukannya penundaan ini akan memukul harapan Arab Saudi dalam menarik investasi asing.

"Fleksibilitas merupakan hal yang bagus. Namun, mengubah target program bukanlah kebiasaan yang sehat," ungkap salah seorang penasihat Arab Saudi lainnya kepada Financial Times.

Perubahan tersebut tidak menyinggung pada rencana privatisasi parsial Saudi Aramco, karena program ini berada di luar Program Transformasi Nasional. Yang pasti, 5% dari saham perusahaan minyak milik pemerintah Arab Saudi ini akan ditawarkan dalam hajatan initial public offering (IPO) pada tahun depan.

Rincian lengkap mengenai perubahan tersebut akan diumumkan pada Oktober mendatang.


Reporter Barratut Taqiyyah Rafie
Editor Barratut Taqiyyah Rafie

ARAB SAUDI

Feedback   ↑ x
Close [X]