4 Negara ASEAN ini tolak permintaan China undang junta Myanmar ke KTT

Kamis, 18 November 2021 | 21:12 WIB Sumber: Reuters
4 Negara ASEAN ini tolak permintaan China undang junta Myanmar ke KTT

ILUSTRASI. Kepala junta Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing. 4 Negara ASEAN ini tolak permintaan China undang junta Myanmar ke KTT

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Seorang utusan China dikabarkan telah melobi negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN untuk mengizinkan penguasa militer Myanmar menghadiri pertemuan puncak regional yang diselenggarakan Presiden China minggu depan. Namun upaya Beijing tersebut mendapat tentangan keras dari para pemimpin ASEAN.

Posisi Myanmar sebagai anggota dari 10 negara ASEAN telah menjadi sorotan pasca kudeta 1 Februari 2021 lalu, ketika militer menggulingkan pemerintah terpilih pemenang Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, yang memicu kekacauan berdarah.

Sejumlah pemimpin ASEAN kecewa dengan kembalinya krisis dan penindasan demokrasi di Myanmar dan telah berusaha menekan para jenderal pemimpin kudeta dengan mengeluarkan mereka dari pertemuan ASEAN.

Dalam keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, bulan lalu, para pemimpin ASEAN memblokir pemimpin militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, dari pertemuan puncak ASEAN setelah ia gagal memenuhi janji untuk mengizinkan utusan ASEAN bertemu dengan anggota parlemen yang digulingkan dalam kudeta.

Baca Juga: Junta Myanmar resmi mendakwa Aung San Suu Kyi atas kecurangan pemilu

Sebaliknya, para pemimpin ASEAN mengatakan seorang tokoh non-politik dari Myanmar harus diminta untuk hadir. Pada akhirnya, Myanmar tidak terwakili.

Empat sumber diplomatik dan politik di kawasan itu mengatakan Indonesia, Brunei, Malaysia dan Singapura menginginkan Min Aung Hlaing dilarang menghadiri pertemuan China-ASEAN 22 November yang diselenggarakan oleh Presiden China Xi Jinping.

"Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei telah sepakat untuk mempertahankan posisi yang sama dengan KTT ASEAN," kata sumber pemerintah di negara ASEAN yang menolak disebutkan namanya, merujuk pada permintaan agar Myanmar diwakili oleh tokoh non-politik.

Juru bicara kementerian luar negeri Indonesia Teuku Faizasyah, menegaskan pendiriannya yang teguh pada tokoh non-politik, mengacu pada "kebijaksanaan" yang ditunjukkan oleh para pemimpin sebelum KTT Oktober.

Baca Juga: Semakin kacau, militer Myanmar diduga memblokir bantuan kemanusiaan

Editor: Noverius Laoli

Terbaru