Akibat Krisis Energi, Saham-saham di Eropa Rontok

Senin, 11 Juli 2022 | 15:53 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Akibat Krisis Energi, Saham-saham di Eropa Rontok

ILUSTRASI. Saham di bursa Eropa turun tajam pekan ini. REUTERS/Ralph Orlowski

KONTAN.CO.ID - BERLIN. Saham-saham Eropa turun tajam pada minggu ini karena dibayangi oleh kekhawatiran investor atas krisis pasokan energi, meningkatnya kasus Covid-19 di China dan penemuan varian virus corona baru melemahkan saham komoditas.

Dilansir dari Reutes, Senin (11/7), Rusia tengah melakukan perbaikan Nord Stream I sejak Senin. Ini merupakan pipa tunggal terbesar yang membawa gas Rusia ke Jerman

Aliran gas tersebut diperkirakan akan berhenti selama 10 hari. Namun pemerintah, pasar, dan perusahaan khawatir penutupan itu mungkin diperpanjang karena perang Ukraina dan dapat mengganggu rencana untuk mengisi penyimpanan gas pada musim dingin.

Akibatnya, Indeks Pan Eropa STOXX 600 yang sebelumnya berhasil naik selama tiga hari beruntun harus turun 1,1% pada 0712 GMT, setelah membukukan minggu terbaik dalam tujuh pada Jumat lalu.

Baca Juga: Bursa Asia Kompak Menguat di Pagi Ini (8/7), Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS

Semua sektor utama Eropa berada di zona merah, dipimpin oleh penurunan 3,5% pada sektor tambang. Saham barang mewah, yang sebagian besar permintaannya berasal dari China, tergelincir dengan LVMH kehilangan 2,8%. 

Bahkan pasar Asia ikut tergelincir karena kenaikan kasus Covid-19 di Shanghai. Sementara Omicron BA.5.2.1, subvarian baru juga ditemukan di kota tersebut. 

Pasar khawatir akan kemungkinan pembatasan wilayah di China untuk mencegah penyebaran virus, yang sekali lagi dapat merusak pertumbuhan ekonomi di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Eropa mendekati paritas dengan dolar yang juga menambah kekhawatiran investor tentang pukulan terhadap kinerja pendapatan karena hasil kuartal kedua mulai meningkat. 

Saham Danske Bank turun 6,1% setelah pemberi pinjaman mengurangi prospek laba bersih setahun penuh, dirugikan oleh kenaikan suku bunga yang cepat dan kondisi pasar keuangan yang tidak menguntungkan.

 

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru