kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45886,18   -14,64   -1.62%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Anak Muda China Makin Ogah Menikah, Apa yang Terjadi?


Senin, 07 Agustus 2023 / 07:05 WIB
Anak Muda China Makin Ogah Menikah, Apa yang Terjadi?


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID. BEIJING - Pemerintah China telah meluncurkan sejumlah strategi untuk mendorong warganya untuk menikah. Salah satunya dengan memberikan sejumlah insentif. 

Akan tetapi, angka pengangguran kaum muda yang tinggi dan tekanan keuangan membuat kaum muda tidak memilih untuk menikah dan memulai keluarga.

Melansir DW, Bagi Jingyi Hou, 29 tahun, seorang guru sekolah di provinsi Shanxi utara China, pernikahan bukanlah prioritas.

Terlepas dari kegigihan orang tuanya dalam mengatur sekitar 20 kencan buta untuknya selama tiga tahun terakhir, Jingyi tetap melajang dan tidak merasakan urgensi untuk menemukan pasangan hidup.

"Pernikahan adalah tentang kebebasan. Tidak semua orang perlu menikah secepat mungkin," katanya kepada DW.

Dan Jingyi tidak sendiri. Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh Kementerian Urusan Sipil China pada bulan Juni, jumlah pencatatan pernikahan di seluruh negeri adalah yang terendah dalam 37 tahun, setelah delapan tahun mengalami penurunan. 

Hanya 6,83 juta pasangan yang menikah di China di sepanjang tahun lalu.

Baca Juga: Buah Durian Semakin Populer di China, Ada Apa?

Di China, semakin banyak anak muda, terutama wanita yang lahir pada tahun 1990-an dan 2000-an, menjadi acuh tak acuh terhadap harapan masyarakat untuk menikah dini.

Menurut Buku Tahunan Sensus China terbaru, usia rata-rata pernikahan pertama di negara itu pada tahun 2020 adalah 28,6 tahun, hampir empat tahun lebih tua dari tahun 2010.

Alasan mengapa wanita di China menolak pernikahan

Ye Liu, dosen senior di Lau China Institute di King's College London, mengatakan kepada DW bahwa ketidaksetaraan gender masih tertanam kuat di tempat kerja China. Ini termasuk kuota gender yang diskriminatif dan evaluasi calon perempuan berdasarkan kemungkinan kehamilan dan perlunya cuti melahirkan.

Kondisi ini telah memaksa banyak wanita muda untuk memilih antara karir mereka atau memulai sebuah keluarga.

"Ketika perempuan menghabiskan waktu lebih lama dalam pendidikan, secara alami mereka menunda usia memasuki pernikahan dan menjadi orang tua," kata Ye.

Christa, yang berbicara kepada DW dengan syarat menggunakan nama samaran, mengatakan dirinya tidak perlu menikah.

"Saya percaya bahwa menikah akan mempengaruhi prestasi saya, terutama karir saya," kata perempuan berusia 25 tahun, yang bekerja sebagai manajer proyek sebuah perusahaan manufaktur di China.

Baca Juga: China Rilis Proyek Budaya Pernikahan & Melahirkan Era Baru, Seperti Apa?




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×