Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
STOCKHOLM. Perekonomian Swedia kini sedang terancam. Asal tahu saja, dalam beberapa dekade terakhir, perbankan Swedia banyak melakukan ekspansi di negara-negara Baltic. Masalahnya, resesi membuat perbankan di Baltic mengalami penyusutan aset yang tidak sedikit.
Menurut perkiraan Fitch Ratings Ltd, jumlah penyusutan aset mencapai 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Swedia. Padahal, krisis sepanjang tahun 2008 lalu sudah menyebabkan perekonomian Swedia terjungkal hebat dalam 15 tahun terakhir.
Swedbank AB dan SEB AB, yang merupakan bank terbesar di Baltic, telah mengucurkan pinjaman dengan nilai melebihi 366 miliar kronor atau US$ 48 miliar di kawasan itu. Menurut Chief Economist Danske Bank A/S di Stockholm Roger Josefsson, itu artinya, kinerja bank bakal terpukul hebat dan perekonomian Swedia membutuhkan stimulus tambahan lagi yang lebih besar.
“Jika perbankan Swedia terpukul akibat kerugian pinjaman yang besar di kawasan Baltic, balance sheet mereka terpaksa mengalami pengerucutan. Kondisi itu tidak hanya terjadi di Baltic saja, melainkan juga di Swedia.
Hal senada juga diungkapkan oleh Aidan Manktelow, Analyst Economist Intelligence Unit. “Perbankan akan mengalami peningkatan kredit macet di negara-negara Baltic seiring dengan turunnya gaji dan tingginya angka pengangguran. Sementara itu, devaluasi mata uang tak bisa lagi dihindari,” jelas Manktelow.
Sementara itu, bank sentral Swedia memprediksi, perbankan akan mengalami penyusutan aset hingga 170 miliar kronor pada tahun ini dan tahun depan. Skenario terburuk, lanjut bank sentral, kerugian kredit bisa mencapai 300 miliar kronor.
Kondisi tersebut secara otomatis akan memukul mata uang krona. “Perekonomian Swedia akan semakin terdesak sehingga menyebabkan melemahnya krona,” jelas Ian Stannard, Currency Strategist BNP Paribas SA.