Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Pendaftaran pernikahan di China turun 6,2% secara tahunan pada kuartal pertama dan sekitar setengah dari level tahun 2017, yang menggarisbawahi tekanan demografis di negara di mana kelahiran anak masih terkait erat dengan pernikahan.
Mengutip Reuters, Senin (11/5/2026), data resmi Kementerian Urusan Sipil China mencatat 1,697 juta pendaftaran pernikahan pada kuartal tersebut.
Angka-angka tersebut merupakan tanda terbaru dari tantangan demografis China yang semakin dalam.
Populasi China menurun untuk tahun keempat berturut-turut pada tahun 2025, sementara angka kelahirannya turun ke rekor terendah, memicu peringatan dari para ahli demografi tentang penurunan lebih lanjut.
Baca Juga: Voting Pemakzulan Sara Duterte Dimulai, Jalan Menuju Pilpres Filipina 2028 Terancam
Pasangan di China secara tradisional memiliki anak setelah menikah, mencerminkan norma budaya dan peraturan administratif yang dalam beberapa kasus mengaitkan pendaftaran kelahiran atau akses ke tunjangan dengan akta nikah.
Pihak berwenang telah meluncurkan berbagai langkah untuk mendorong pernikahan dan kelahiran anak, termasuk subsidi keluarga, dukungan perawatan anak, dan upaya untuk mengurangi biaya medis terkait persalinan.













