Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
Pemanfaatan AI dalam layanan investasi mulai mendapat penerimaan dari nasabah kaya di Singapura.
Studi Citi mencatat, sebanyak 58% nasabah HNW dan 51% nasabah Affluent menyatakan terbuka untuk menjajaki penggunaan AI guna memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Teknologi tersebut terutama digunakan untuk membandingkan produk keuangan dan menyaring pilihan dalam portofolio investasi.
Meski demikian, penerimaan terhadap AI tidak berarti nasabah ingin menyerahkan seluruh keputusan kepada teknologi.
Sebanyak 31% responden menyebut kendali penuh atas keputusan keuangan sebagai pertimbangan utama dalam mengadopsi AI. Sementara itu, 22% menempatkan kesempatan berkonsultasi dengan penasihat manusia sebagai pertimbangan penting.
Baca Juga: Rekening Valas Menjamur, Nasabah Kaya Antisipasi Dinamika Pasar
Kepercayaan terhadap penasihat keuangan juga menguat. Skor Net Promoter Score (NPS) untuk pengelola hubungan nasabah atau relationship manager (RM) di Singapura meningkat dari +19 pada 2022 menjadi +31 pada 2026.
NPS mengukur kecenderungan nasabah merekomendasikan layanan kepada orang lain.
Temuan ini menunjukkan bahwa nasabah cenderung memilih model layanan yang memadukan AI dan pendampingan manusia.
AI dapat mempercepat analisis dan penyiapan informasi, sedangkan penasihat manusia berperan memberikan pertimbangan sesuai konteks, dukungan emosional, dan arahan strategis.
Yeo mengatakan, masa depan pengelolaan kekayaan akan ditentukan oleh kemampuan teknologi dan nasihat manusia untuk saling melengkapi.
Meski nasabah semakin terbuka menggunakan AI untuk menjajaki gagasan dan mengevaluasi pilihan, kepercayaan tetap menjadi unsur utama dalam pengambilan keputusan.














