kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Aset Nasabah Kaya di Singapura Tumbuh 6% di 2026, Ini Pemicunya


Jumat, 23 Oktober 2026 / 19:35 WIB
Aset Nasabah Kaya di Singapura Tumbuh 6% di 2026, Ini Pemicunya
ILUSTRASI. Karyawan Mengamati Pergerakan IHSG (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rata-rata aset nasabah kaya di Singapura meningkat 6% menjadi US$ 1,5 juta pada 2026, dari US$ 1,41 juta pada tahun sebelumnya. 

Di tengah pertumbuhan kekayaan tersebut, nasabah mulai terbuka terhadap pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memperoleh informasi investasi, tetapi tetap ingin memegang kendali penuh atas keputusan keuangan mereka.

Temuan tersebut tertuang dalam studi Citi Wealth bertajuk Singapore at Heart, Global in Possibilities seperti dikutip dari fintechnews.sg, Jumat (23/10/2026), yang disusun bersama lembaga riset independen RFI Global. 

Studi ini mengulas perkembangan pengelolaan kekayaan di Singapura, pemanfaatan AI dalam layanan keuangan, serta persiapan keluarga untuk mengalihkan kekayaan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga: Bidik Diversifikasi Aset Nasabah Kaya, OCBC Luncurkan Premier One

Selain nasabah kaya atau high-net-worth (HNW), kelompok nasabah beraset menengah atas atau Affluent juga mencatat pertumbuhan aset kelolaan. 

Rata-rata aset kelolaan (assets under management/AUM) kelompok ini meningkat 5% menjadi lebih dari US$ 565.000 per institusi keuangan pada 2026, dari US$ 537.710 pada 2025.

Singapura tetap menjadi salah satu pusat pengelolaan kekayaan di kawasan Asia. Studi Citi menunjukkan, nasabah perbankan lintas negara yang berasal dari Indonesia mencakup 41% dari total nasabah lintas negara di Singapura. Malaysia menyusul dengan kontribusi 36%.

Arus nasabah dari negara-negara sekitar memperkuat posisi Singapura sebagai pusat pengelolaan kekayaan sekaligus tempat pencatatan aset bagi nasabah Affluent dan HNW.

Kepala Wealth Citi untuk Asia Selatan dan CEO Citibank Singapura Yeo Wenxian mengatakan, daya tarik Singapura ditopang oleh lingkungan operasional yang stabil serta konektivitas yang kuat dengan pasar global.

Baca Juga: Ekonomi Singapura Tumbuh 5,7% di Kuartal II-2026, Lebih Tinggi dari Ekspektasi

Seiring dengan semakin lintas negaranya pengelolaan kekayaan, nasabah membutuhkan akses ke peluang investasi di luar pasar domestik. Pada saat yang sama, mereka memerlukan pendampingan untuk menghadapi lanskap investasi yang semakin kompleks.

Kepemilikan reksadana meningkat

Di tengah pertumbuhan aset, pilihan instrumen investasi nasabah kaya di Singapura juga mengalami perubahan. Kepemilikan reksadana di kalangan investor HNW meningkat dari 11% pada 2022 menjadi 31% pada 2026.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Asia, melampaui India sebesar 24%, Korea Selatan 17%, Hong Kong 16%, dan China daratan 7%.

Menurut studi tersebut, peningkatan kepemilikan reksadana mencerminkan minat investor terhadap pengelolaan dana secara profesional. 

Dengan pendekatan ini, investor dapat mengurangi pengaruh emosi dalam pengambilan keputusan sekaligus memanfaatkan keahlian pengelola dana.

Meski demikian, kas dan simpanan likuid masih mendominasi portofolio nasabah. 

Di Singapura, sebanyak 72% aset Affluent yang dikelola di dalam negeri dan 74% aset yang dicatatkan di luar negeri ditempatkan dalam kas serta simpanan likuid. 

Baca Juga: Bank Berebut Dana Nasabah Kaya, Layanan Wealth Management Kian Agresif

Dengan demikian, porsi aset yang dialokasikan ke investasi hanya berkisar 26%–28%.

Pola serupa terlihat di pusat keuangan Asia lainnya. Di Hong Kong, misalnya, 76% aset nasabah yang dicatatkan di luar negeri masih tersimpan dalam bentuk simpanan.

Sebaliknya, nasabah Affluent dan HNW di Amerika Serikat mengalokasikan 58% aset mereka untuk investasi jangka panjang, sedangkan 42% sisanya ditempatkan dalam simpanan.

Citi menilai, tingginya porsi kas mencerminkan preferensi nasabah terhadap likuiditas dan perlindungan modal. Namun, kondisi ini juga membuka peluang untuk memperluas diversifikasi ke instrumen investasi jangka panjang.

Pemanfaatan AI dalam layanan investasi mulai mendapat penerimaan dari nasabah kaya di Singapura. 

Studi Citi mencatat, sebanyak 58% nasabah HNW dan 51% nasabah Affluent menyatakan terbuka untuk menjajaki penggunaan AI guna memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Teknologi tersebut terutama digunakan untuk membandingkan produk keuangan dan menyaring pilihan dalam portofolio investasi.

Meski demikian, penerimaan terhadap AI tidak berarti nasabah ingin menyerahkan seluruh keputusan kepada teknologi. 

Sebanyak 31% responden menyebut kendali penuh atas keputusan keuangan sebagai pertimbangan utama dalam mengadopsi AI. Sementara itu, 22% menempatkan kesempatan berkonsultasi dengan penasihat manusia sebagai pertimbangan penting.

Baca Juga: Rekening Valas Menjamur, Nasabah Kaya Antisipasi Dinamika Pasar

Kepercayaan terhadap penasihat keuangan juga menguat. Skor Net Promoter Score (NPS) untuk pengelola hubungan nasabah atau relationship manager (RM) di Singapura meningkat dari +19 pada 2022 menjadi +31 pada 2026. 

NPS mengukur kecenderungan nasabah merekomendasikan layanan kepada orang lain.

Temuan ini menunjukkan bahwa nasabah cenderung memilih model layanan yang memadukan AI dan pendampingan manusia. 

AI dapat mempercepat analisis dan penyiapan informasi, sedangkan penasihat manusia berperan memberikan pertimbangan sesuai konteks, dukungan emosional, dan arahan strategis.

Yeo mengatakan, masa depan pengelolaan kekayaan akan ditentukan oleh kemampuan teknologi dan nasihat manusia untuk saling melengkapi. 

Meski nasabah semakin terbuka menggunakan AI untuk menjajaki gagasan dan mengevaluasi pilihan, kepercayaan tetap menjadi unsur utama dalam pengambilan keputusan.

Perencanaan warisan diperhatikan

Selain pengelolaan investasi, perencanaan pengalihan kekayaan antargenerasi juga menjadi perhatian nasabah di Singapura.

Sekitar tiga dari empat nasabah Affluent di negara tersebut telah memiliki surat wasiat atau rencana suksesi kekayaan, maupun berniat menyusunnya. Tingkat kesiapan ini lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan pada setiap kelompok usia.

Kesenjangan paling lebar terlihat pada kelompok berusia 55 tahun ke atas. Sebanyak 76% nasabah di Singapura dalam kelompok usia tersebut telah memiliki rencana suksesi, dibandingkan 41 persen di Hong Kong.

Ada sejumlah faktor yang mendorong nasabah menyusun rencana warisan. Nasihat penasihat keuangan dan persoalan kesehatan masing-masing disebut oleh 41% responden sebagai pemicu utama. 

Baca Juga: Bank Berlomba Memperkuat Layanan Bagi Nasabah Kaya

Perencanaan pensiun menyusul dengan 37%, kemudian pernikahan atau perceraian sebesar 18% serta kelahiran anak sebesar 13%.

Dalam menyusun pembagian harta, perlindungan aset keluarga menjadi prioritas utama bagi 51% responden. 

Sementara itu, menghindari perselisihan keluarga dan memastikan pembagian yang adil di antara ahli waris masing-masing dipilih oleh 45% responden.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×