Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pertumbuhan ekonomi global kemungkinan akan melambat menjadi 2,6% pada tahun 2026, turun dari 2,9% pada tahun lalu, karena guncangan energi akibat krisis di Timur Tengah memberikan tekanan pada ekonomi global. Proyeksi ini disampaikan Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) pada Jumat (9/10/2026).
Perdagangan barang dan jasa diperkirakan akan tumbuh sebesar 4% (berdasarkan harga konstan) setelah perdagangan global mencapai rekor US$ 35 triliun pada tahun 2025. "Namun peningkatan yang diproyeksikan ini didorong oleh harga energi yang lebih tinggi," ungkap UNCTAD dalam laporan perdagangan dan pembangunannya yang dikutip Reuters.
Menurut UNCTAD, perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS) telah turun lebih dari 20% sejak tahun 2024. Sementara Asia Timur telah meningkatkan perdagangan dengan China maupun Amerika Utara.
"Pengendalian ekspor, penyaringan investasi, dan kondisi rantai pasok membuat sektor-sektor strategis lebih sulit diakses oleh pemain baru," tulis UNCTAD.
Baca Juga: Produksi CPO Diprediksi Turun pada 2027, Malaysia Beri Dukungan Pembiayaan
Asia diproyeksikan menyumbang 59% dari pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026, dengan India tumbuh sebesar 7,3%, China 4,5%, dan Indonesia 5,2%.
Meskipun produk terkait AI, seperti semikonduktor, menjadi pendorong utama perdagangan barang, pertumbuhan perdagangan yang terkait dengan AI tidak secara otomatis berarti adanya manfaat pembangunan yang luas, ujar UNCTAD.
Badan tersebut juga memperingatkan bahwa lonjakan AI membawa risiko stabilitas keuangan karena pasar menjadi lebih bergantung pada segelintir perusahaan saja. Badan tersebut tidak menyebutkan nama perusahaan-perusahaan itu.
Pada bulan Juni, Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan global menjadi 2,5% akibat perang di Timur Tengah dan memperkirakan penurunan hingga 1,3% dalam skenario terburuknya.
Dana Moneter Internasional (IMF) sedikit lebih optimistis dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 3%, namun juga menyoroti perang Iran, fragmentasi perdagangan, dan koreksi terkait AI sebagai risiko.
Baca Juga: AS Sita Tujuh Domain Internet untuk Ganggu Infrastruktur Peretas China














