Bank Global Berlomba Rilis Obligasi di Singapura, Apa Sebabnya?

Selasa, 12 Juli 2022 | 14:35 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Bank Global Berlomba Rilis Obligasi di Singapura, Apa Sebabnya?

ILUSTRASI. Sejumlah bank global berbondongan merilis obliasi di Singapura


KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Sejumlah bank global berbondong-bondong merilis obliasi di Singapura seiring dengan uniknya kebijakan bank sentral di negara ini. Data Refinitiv mencatatkan penghimpunan dana melalui surat utang di Singapura mencapai sekitar US$8,5 miliar sejak awal tahun hingga 6 Juli 2022. 

Bank sentral Singapura mengelola kebijakan melalui mata uangnya, bukan suku bunga jangka pendek. Sehingga Singapore Overnight Rate Average (SORA) jauh lebih murah dibandingkan kenaikan biaya pinjaman untuk dolar AS, mengutip Reuters pada Selasa (12/7). 

Perhitungan tertimbang volume pada pinjaman antar bank tanpa jaminan dan patokan untuk SORA rata-rata sekitar 1%. Lebih murah dibandingkan rata-rata LIBOR yang lebih dari 1,2%.

Bahkan, Otoritas Moneter Singapura juga ingin menjaga dolar Singapura tetap stabil dan mengurangi risiko mata uang. Ini membuat selera investor terus meningkat untuk memburu instrumen keuangan dari Singapura. 

Baca Juga: Menelusuri Investasi Rusia di Indonesia di Sektor Industri Beberapa Tahun Terakhir

Bahkan, para bankir memilih Singapura untuk menerbitkan obligasi dalam pemenuhan persyaratan modal cadangan atau tier-2. Aksi ini menyumbang himpunan surat utang sekitar US$ 3,5 miliar pada bulan Juni.

"Pasar utang di sini masih berperilaku cukup baik, suku bunga belum naik secara signifikan. Tentu saja ini akan menarik lebih banyak lagi emiten," Daryl Ho, ahli strategi investasi senior di Bank DBS Singapura. 

Bank swasta telah memimpin permintaan investor yang solid. UOB, pembukuan untuk uang Tier-2 senilai S$ 900 juta bagi HSBC pada bulan Juni lalu. Bahkan, penawaran obligasi ini mengalami kelebihan permintaan. Surat utang ini memiliki bunga sebesar 5,25% dan dinilai masih kompetitif.

"Perdagangan dolar Singapura dihargai sekitar 20 hingga 25 basis poin lebih ketat daripada yang akan mereka capai di pasar dolar AS," kata Carolyn Tan, kepala pasar modal utang UOB untuk obligasi. 

Pemberi pinjaman seperti BNP Paribas, ABN Amro, dan Barclays juga menjual utang dalam dolar Singapura baru-baru ini. Kesepakatan Tier-1 alternatif senilai USS$ 450 juta Barclays minggu lalu memiliki kupon 8,3%, melawan kupon 8,875% pada £1,25 miliar yang dikumpulkan seminggu sebelumnya.

Baca Juga: Menilik Nilai Transaksi Akuisisi Perusahaan Multifinance, Murah atau Mahal?

"Saya berharap banyak bendahara bank akan melihat pasar ini dengan sangat cermat. Ada momentumnya, mengingat dislokasi di G3 (mata uang),” papar Ken Wei Wong, kepala sindikat pendapatan tetap Asia-Pasifik Barclays.

Pasar uang berjangka dihargai untuk melanjutkannya, dengan eurodollar berjangka tiga bulan, yang melacak biaya pinjaman dolar AS di luar negeri, menunjukkan para pedagang melihat suku bunga mencapai 3% pada akhir tahun.

Adapun Andrew Wong, wakil presiden penelitian kredit di OCBC Bank di Singapura menyatakan pasar dolar Singapura relatif lebih murah daripada pasar lain. Sehingga selama dinamika ini bertahan maka OCBC  berharap lembaga keuangan akan terus menerbitkan dolar Singapura.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru