Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bersiap mencatat kinerja mingguan terkuat sejak Oktober, ditopang data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, prospek kebijakan hawkish dari Federal Reserve, serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Semalam, dolar mendapat dorongan tambahan setelah data menunjukkan klaim tunjangan pengangguran baru di AS turun lebih besar dari perkiraan, menegaskan stabilitas pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Aktivitas Manufaktur Jepang Tumbuh Tercepat dalam Empat Tahun
Di awal perdagangan Asia Jumat (20/2/2026), dolar mempertahankan penguatannya dan menekan poundsterling ke dekat level terendah satu bulan di US$1,3457. Sterling menuju penurunan mingguan hampir 1,5%.
Euro juga melemah tipis 0,02% ke US$1,1768 dan berpotensi turun 0,8% sepanjang pekan ini, terbebani ketidakpastian terkait masa jabatan Presiden European Central Bank, Christine Lagarde.
Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar bertahan di dekat puncak satu bulan di 97,89.
Dolar berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 1% yang akan menjadi performa terbaik dalam lebih dari empat bulan.
Joseph Capurso, analis di Commonwealth Bank of Australia, mengatakan dolar masih berpeluang menguat, merujuk pada risalah rapat Federal Reserve pekan ini yang menunjukkan sejumlah pejabat terbuka pada kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
Baca Juga: Donald Trump Beri Tenggat 10–15 Hari ke Iran untuk Capai Kesepakatan Nuklir
Safe Haven di Tengah Ketegangan AS-Iran
Kekhawatiran konflik AS-Iran juga memberikan dukungan safe haven bagi dolar.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya dalam 10 hingga 15 hari ke depan, atau menghadapi konsekuensi serius.
Teheran merespons dengan ancaman akan membalas terhadap pangkalan AS di kawasan jika diserang.
“Hal itu bisa sangat memengaruhi pasar minyak dan mata uang jika situasinya memburuk. Ini juga akan menjadi ujian apakah dolar AS masih menjadi aset safe haven,” kata Capurso.
Baca Juga: Meta Pangkas Saham Karyawan 5% untuk Danai Ambisi AI
Fokus ke Data PCE dan PDB AS
Pasar kini menantikan rilis indeks harga PCE inti AS dan data awal produk domestik bruto (PDB) kuartal IV, yang berpotensi menentukan arah pergerakan mata uang selanjutnya.
Investor masih memperkirakan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed tahun ini. Namun, peluang pemangkasan pada Juni turun menjadi sekitar 58% dari 62% sepekan lalu, berdasarkan CME FedWatch.
Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management menilai perdebatan di internal The Fed berpusat pada pilihan antara memangkas suku bunga untuk mendukung pasar tenaga kerja atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna menekan inflasi.
Baca Juga: Board of Peace: Ini Rincian Bantuan dari Negara-Negara Anggota Termasuk Indonesia
Pergerakan Mata Uang Lain
Dolar Australia turun tipis 0,08% ke US$0,7055, tetapi hanya melemah 0,2% sepanjang pekan karena ekspektasi suku bunga domestik yang masih hawkish.
Dolar Selandia Baru turun 0,12% ke US$0,5967 dan menuju pelemahan mingguan 1,2%, tertekan prospek dovish dari Reserve Bank of New Zealand.
Sementara itu di Jepang, yen melemah 0,05% ke 155,08 per dolar setelah data menunjukkan inflasi inti tahunan Januari berada di 2,0% laju paling lambat dalam dua tahun.
Meski demikian, analis menilai Bank of Japan masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga pada Juni jika tekanan harga dan pertumbuhan upah menguat.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)