Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Donald Trump memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya atau menghadapi “hal-hal yang sangat buruk.” Ia menetapkan tenggat waktu sekitar 10 hingga 15 hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington, di tengah pengerahan besar-besaran militer AS di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran akan perang lebih luas.
“Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi,” kata Trump, seraya menegaskan bahwa Iran harus mencapai kesepakatan yang “bermakna.”
Baca Juga: Meta Pangkas Saham Karyawan 5% untuk Danai Ambisi AI
Trump juga menyinggung serangan udara AS pada Juni lalu yang menurutnya telah “menghancurkan” potensi nuklir Iran. Namun ia menambahkan, “kami mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak.”
Kepada wartawan di Air Force One, Trump mengatakan 10–15 hari adalah “cukup waktu, maksimum.”
Iran Ancam Balas Serangan
Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Teheran menyatakan tidak akan memulai perang, tetapi akan merespons secara “tegas dan proporsional” jika diserang.
“Semua pangkalan, fasilitas, dan aset kekuatan bermusuhan di kawasan akan menjadi target yang sah,” demikian isi surat tersebut, yang juga menegaskan AS akan menanggung konsekuensi penuh atas eskalasi.
Baca Juga: AS Bayar US$160 Juta dari Tunggakan Lebih dari US$4 Miliar ke PBB
Trump menyebut “pembicaraan yang baik sedang berlangsung.”
Seorang pejabat senior AS mengatakan Iran akan mengajukan proposal tertulis untuk menjawab kekhawatiran Washington.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sebelumnya menyatakan kedua pihak telah menyepakati “prinsip-prinsip panduan” dalam pertemuan Selasa lalu.
Namun Gedung Putih menyebut masih ada sejumlah perbedaan signifikan.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran “tidak boleh memiliki senjata nuklir,” karena hal itu akan mengancam perdamaian di Timur Tengah.
AS dan Israel menuntut Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium, menghentikan pengembangan rudal balistik jarak jauh, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Iran menolak memperluas pembahasan di luar isu nuklir dan menyebut pembatasan program misil sebagai “garis merah.”
Baca Juga: Board of Peace: Ini Rincian Bantuan dari Negara-Negara Anggota Termasuk Indonesia
Ketegangan Militer Meningkat
AS telah mengirim kapal induk, kapal perang, dan jet tempur ke kawasan. Seorang pejabat senior AS mengatakan pengerahan militer itu akan rampung pada pertengahan Maret.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 28 Februari untuk membahas Iran.
Sementara itu, Rusia memperingatkan risiko “eskalasi ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Kapal korvet Rusia juga bergabung dalam latihan angkatan laut Iran di Teluk Oman, jalur vital energi global.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup di Level Tertinggi Enam Bulan, Ketegangan AS-Iran Memanas
Sejumlah negara Eropa mulai meminta warganya meninggalkan Iran. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan warganya mungkin hanya memiliki hitungan jam untuk melakukan evakuasi.
Ancaman terbaru Trump muncul saat ia mempromosikan dirinya sebagai “pembawa damai” dalam forum Board of Peace, inisiatif yang awalnya ditujukan untuk mengakhiri perang Israel di Gaza, namun kemudian diperluas untuk menangani konflik global lainnya.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)