Berjuang lawan Covid-19, India pesan 300 juta vaksin corona yang belum disetujui

Sabtu, 05 Juni 2021 | 09:15 WIB Sumber: BBC
Berjuang lawan Covid-19, India pesan 300 juta vaksin corona yang belum disetujui


KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Di tengah serangan Covid-19 gelombang dua yang menghancurkan, India telah memesan 300 juta dosis vaksin virus corona yang belum mendapat persetujuan.

BBC melaporkan, menurut pemerintah federal dalam sebuah pernyataan, vaksin yang tidak disebutkan namanya itu berasal dari perusahaan India Biological E. Saat ini, vaksin tersebut sedang dalam uji coba Fase 3, dan telah menunjukkan "hasil yang menjanjikan" dalam dua fase pertama. 

Pemesanan vaksin senilai US$ 206 juta itu merupakan yang pertama di India untuk vaksin yang belum menerima persetujuan darurat.

Langkah ini diambil pada saat negara itu berjuang untuk mempercepat upaya vaksinasinya yang tertinggal dari negara lain.

Baca Juga: Para dokter di India sedang berupaya keras memerangi infeksi jamur yang mematikan

Catatan BBC menunjukkan, India telah memberikan lebih dari 220 juta suntikan sejauh ini, meskipun sebagian besar dari 1,4 miliar penduduknya sekarang memenuhi syarat untuk vaksin. 

Kurang dari 15% populasi di negara tersebut telah menerima setidaknya satu dosis vaksinasi, sebagian besar karena kekurangan dosis yang parah.

Meskipun jumlah kasus Covid telah menurun, India masih mencatatkan kenaikan lebih dari 100.000 kasus corona sehari. Sejauh ini, India telah mencatat lebih dari 340.000 kematian akibat virus Covid-19. Akan tetapi, para ahli mengatakan jumlah yang sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Hati-hati, mutasi virus corona menular 3 kali lipat lebih cepat

Pemerintah federal India, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi, telah dikritik karena tidak melakukan pemesanan vaksin sebelumnya dengan produsen vaksin India atau asing.

India saat ini memberikan tiga vaksin Covid-19, yakni: Covishield yang diproduksi oleh Serum Institute of India (SII), Covaxin yang dikembangkan oleh perusahaan India Bharat Biotech dan Dewan Penelitian Medis India, dan Sputnik V yang dikembangkan oleh Institut Gamaleya Moskow.

 

Selanjutnya: Alarm dari Malaysia dan Singapura: Varian baru virus corona menyerang banyak anak

 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru