Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berkshire Hathaway mulai meningkatkan pembelian kembali saham (buyback) setelah Greg Abel menjabat sebagai CEO menggantikan Warren Buffett.
Langkah tersebut menunjukkan perubahan pendekatan manajemen dalam memanfaatkan tumpukan kas perusahaan yang selama ini menjadi salah satu ciri khas konglomerasi asal Amerika Serikat (AS) tersebut.
Mengutip Reuters, Minggu (8/11/2026), Berkshire Hathaway menggelontorkan dana sebesar US$ 9,6 miliar untuk membeli kembali sahamnya pada periode Juli-September 2026. Perusahaan juga mengalokasikan tambahan sekitar US$ 2 miliar untuk buyback sepanjang Oktober.
Dengan demikian, total pembelian kembali saham Berkshire pada tahun ini mencapai sekitar US$ 16,4 miliar, termasuk US$ 4,8 miliar yang telah direalisasikan pada periode sebelumnya.
Peningkatan buyback ini menjadi salah satu langkah penting pada kuartal ketiga sejak Abel, 64 tahun, mengambil alih posisi CEO. Sementara itu, Buffett yang kini berusia 96 tahun tetap menjabat sebagai chairman emeritus setelah putranya, Howard Buffett, menggantikannya sebagai ketua dewan pada September 2026.
Selama enam dekade memimpin Berkshire, Buffett dikenal cukup berhati-hati dalam mengalokasikan modal perusahaan. Bahkan, menjelang akhir masa kepemimpinannya, Buffett mengaku semakin sulit menemukan peluang investasi yang menarik untuk menyerap kas perusahaan.
Baca Juga: Trump Tawarkan Jabatan Juru Bicara Gedung Putih kepada Bos UFC Dana White
Setelah melakukan buyback, Berkshire tercatat memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 356,9 miliar pada akhir September 2026. Jumlah tersebut turun dibandingkan posisi enam bulan sebelumnya yang mencapai US$ 380,2 miliar.
Sebagai perbandingan, tahun terbesar Berkshire dalam melakukan buyback saham terjadi pada 2021, ketika perusahaan membeli kembali saham senilai US$ 27 miliar.
Berkshire merupakan konglomerasi yang memiliki puluhan perusahaan di berbagai sektor, mulai dari asuransi dan reasuransi, perkeretaapian melalui BNSF, utilitas, industri, manufaktur, hingga bisnis ritel seperti Brooks, Fruit of the Loom, dan See's Candies.
Selain memiliki berbagai unit usaha, Berkshire juga mengelola portofolio saham senilai US$ 335,5 miliar per 30 September 2026. Portofolio tersebut mencakup saham Alphabet, Apple, dan American Express.
Dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar US$ 1,21 triliun, Berkshire kerap dipandang investor sebagai salah satu indikator untuk membaca kondisi perekonomian Amerika Serikat.
Kinerja Berkshire Hathaway Melemah pada Kuartal III-2026
Di tengah peningkatan buyback, kinerja keuangan Berkshire justru mengalami tekanan. Perusahaan melaporkan laba operasional kuartal III-2026 sebesar US$ 12,71 miliar, turun 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 13,49 miliar.
Sementara itu, laba bersih perusahaan merosot 28% menjadi US$ 22,11 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya kinerja sejumlah bisnis asuransi, termasuk Geico, serta lebih rendahnya keuntungan dari investasi saham.
Berdasarkan estimasi awal Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS, perekonomian Amerika Serikat tumbuh pada tingkat tahunan 3,4% pada kuartal ketiga 2026.
Namun, inflasi yang masih tinggi dan kenaikan harga bahan bakar dinilai membatasi kemampuan konsumen untuk meningkatkan belanja.
Berkshire menyatakan masih terdapat ketidakpastian yang cukup besar terkait perkembangan ekonomi dan geopolitik, termasuk kebijakan tarif perdagangan serta konflik bersenjata. Kondisi tersebut turut menekan kepercayaan konsumen dan menyebabkan permintaan di sejumlah bisnis ritel perusahaan bergerak lambat.
Meski demikian, saham Berkshire justru mencatatkan rekor tertinggi pada pekan ini. Kinerja tersebut terjadi ketika pasar saham secara umum mengalami tekanan akibat kekhawatiran investor terhadap perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan belanja perusahaan teknologi yang dibiayai utang.
Sejak akhir September 2026, kinerja saham Berkshire bahkan mengungguli indeks S&P 500 lebih dari 18 poin persentase. Sepanjang 2026, saham Berkshire juga mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan indeks tersebut dengan selisih lebih dari 5 poin persentase.
Analis CFRA Research Cathy Seifert, yang memberikan rekomendasi hold untuk saham Berkshire, menilai kekuatan neraca keuangan, diversifikasi bisnis, serta program buyback menjadi faktor pendukung kinerja saham perusahaan.
"Investor mungkin mulai beralih ke saham-saham berkualitas tinggi dengan volatilitas lebih rendah seperti Berkshire," ujar Seifert.
Baca Juga: Militer AS Klaim Lumpuhkan Sebuah Kapal Kargo di Teluk Oman
Ia menambahkan, tantangan bagi investor adalah menentukan seberapa besar mereka dapat menerima pelemahan kinerja jangka pendek demi memiliki saham perusahaan dengan neraca keuangan kuat dan berhasil melewati transisi kepemimpinan setelah era Buffett.
Berkshire Perkuat Investasi di Sektor AI
Dari sisi pendapatan, Berkshire membukukan pertumbuhan sebesar 11% menjadi US$ 105,65 miliar. Capaian tersebut menjadi pertumbuhan dua digit selama dua kuartal berturut-turut, meskipun sejumlah bisnis konsumen seperti Fruit of the Loom dan Forest River mengalami penurunan kinerja.
Laba operasional sebesar US$ 12,71 miliar atau setara sekitar US$ 8.954 per saham kelas A tersebut mencerminkan kontribusi dari sejumlah akuisisi yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun ini.
Berkshire mengakuisisi bisnis kimia Occidental Petroleum senilai US$ 9,4 miliar serta perusahaan pengembang properti Taylor Morrison senilai US$ 6,8 miliar.
Selain itu, Berkshire juga menggelontorkan miliaran dolar AS untuk membeli saham Alphabet, induk perusahaan Google, yang tengah memperluas investasi dan pengembangan teknologi AI. Meski demikian, harga saham Alphabet saat ini diperdagangkan di bawah harga diskon yang dibayarkan Berkshire ketika melakukan pembelian.
Berkshire juga mengambil kepemilikan sebesar 4% di perusahaan teknologi perangkat lunak asal Italia, Bending Spoons.
Sementara itu, Berkshire mengingatkan bahwa laba bersih perusahaan turut mencakup keuntungan dan kerugian yang belum direalisasikan dari investasi saham yang masih dimiliki. Perusahaan meminta investor untuk tidak terlalu berfokus pada volatilitas laba bersih yang berasal dari perubahan nilai investasi tersebut.
Bisnis BNSF dan Energi Tumbuh, Geico Tertekan
Dari sejumlah lini usaha, bisnis asuransi menjadi salah satu sektor yang mengalami tekanan paling besar. Laba sebelum pajak Geico tercatat turun 45%.
Penurunan tersebut berkaitan dengan strategi perusahaan yang mulai menurunkan premi asuransi untuk menarik kembali nasabah yang sebelumnya hilang selama periode pengetatan standar penjaminan risiko dan efisiensi biaya operasional.
Rasio kerugian Geico atau persentase premi yang digunakan untuk membayar klaim meningkat menjadi 76,6% pada kuartal ketiga 2026, dibandingkan 71,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Peretasan US$ 6,3 Miliar, CFO Binance Kaiser Ng Mundur
Peningkatan klaim juga terjadi pada sejumlah bisnis asuransi dan reasuransi Berkshire lainnya.
Seifert menilai kinerja Geico relatif lemah dibandingkan perusahaan asuransi pesaing, seperti Allstate dan Progressive. Ia juga menyoroti keterbatasan keterbukaan informasi keuangan Berkshire yang selama ini menyulitkan analis untuk mengidentifikasi sumber persoalan dan menentukan langkah perbaikannya.
"Keterbatasan keterbukaan informasi bukan menjadi masalah ketika semuanya berjalan sesuai harapan, tetapi dapat menjadi titik kerentanan ketika kondisi tidak berjalan sesuai harapan," kata Seifert.
Di sisi lain, bisnis perkeretaapian BNSF mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 19%. Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan dari biaya tambahan bahan bakar serta kenaikan volume pengangkutan produk konsumen, pertanian, dan energi.
Laba Berkshire Hathaway Energy juga meningkat 8%. Unit usaha tersebut mengelola sejumlah perusahaan utilitas, jaringan pipa gas alam, serta bisnis pialang properti Berkshire.
Kinerja positif turut terlihat pada segmen industri. Penjualan produk kedirgantaraan dan turbin gas industri membantu Precision Castparts meningkatkan laba sebelum pajak sebesar 30%.
Sebaliknya, laba bisnis produk konsumen mengalami penurunan, terutama akibat berkurangnya kredit pajak di Duracell. Namun, kenaikan harga bahan bakar memberikan keuntungan bagi jaringan tempat peristirahatan dan pengisian bahan bakar truk Pilot.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
