kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45825,93   2,88   0.35%
  • EMAS948.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.61%
  • RD.CAMPURAN -0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Bill Hwang, si harimau Asia yang terjatuh kedua kali di pasar saham


Minggu, 02 Mei 2021 / 14:19 WIB
Bill Hwang, si harimau Asia yang terjatuh kedua kali di pasar saham
ILUSTRASI. bill hwang

Reporter: Lamgiat Siringoringo | Editor: Lamgiat Siringoringo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bill Hwang seorang trader yang kehilangan US$ 20 miliar atau setara Rp 280 triliun pada akhir Maret lalu bukanlah pemain baru di pasar modal. Dalam laporan khusus Bloomberg Businessweek seperti dikutip dari South China Morning Post, Hwang digambarkan sebagai seorang trader yang sukses.  

Baca Juga: Bill Hwang hamba gereja yang kehilangan duit Rp 280 triliun dalam dua hari

Nama Hwang di pasar modal Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu personil Tiger Club.  Pria darah Korea Selatan ini merupakan salah satu anak buah Julian Robertson pemilik Tiger Management seorang hedge fund kawakan Amerika Serikat yang kondang di tahun 1980-1990an hingga bisa menjadi miliarder. 

Anak buah Robertson memang banyak yang berhasil menjalankan bisnis hedge fund. Selain Hwang, ada beberapa hedge fund yang merupakan alumni Tiger Club juga seperti Andreas Halvorsen pemilik Viking Global Investors, Philippe Laffont pemilik Coatue Management dan Chase Coleman pemilik Tiger Global Managemen.

Hwang Sung-kook nama asli Bill Hwang ini berimigrasi ke AS dari Korea Selatan pada tahun 1982. Ia akhirnya menggunakan nama Inggris Bill selama di AS. Hwang kuliah di Universitas California, Los Angeles. Lalu mendapatkan gelar MBA di Universitas Carnegie Mellon. 

Awal karirnya, ia menjadi tenaga pemasaran di dua perusahaan sekuritas. Hingga tahun 1996 karirnya menanjak menjadi seorang analis di di Tiger Management. Bekerja untuk Robertson membuat Hwang banyak belajar soal investasi meski berada di situasi kritis sekalipun. 

Beberapa momen soal ketenangan Robertson sang guru saat berinvestasi meski sedang jatuh membuat Hwang tumbuh menjadi orang yang berani bertaruh untuk sebuah investasi. 

Tiger Management sendiri tutup pada tahun 2001. Robertson pun meminta Hwang berbisnis sendiri dengan mendirikan Tiger Asia Management. Robertson ikut menanamkan duitnya di Tiger Asia. 

Bermodalkan nama besar Robertson, Hwang pun berhasil mengumpulkan dana untuk bisa bermain di pasar saham. Awalnya Tiger Asia berkomitmen untuk bermain di saham perusahan Asia saja. Namun investasi Hwang terus meluas bukan cuma di Asia saja.

Tahun 2008, Hwang harus merugi dengan saham Volkswagen, dengan kerugian 23%. Banyak investor menarik diri dan marah karena Hwang yang awalnya ingin di Asia malahan bertaruh di pasar Eropa. 

Bukan cuma agresif, Hwang juga dituduh melakukan tindakan illegal dalam pasar modal yakni insider trading. Tahun 2012, regulator sekuritas Amerika Serikat, menyatakan Tiger Asia melakukan insider trading. Regulator menutup Tiger dan menjatuhkan sanksi denda US$ 20 juta. 

Ia dituduh melakukan insider trading dan manipulasi di dua saham bank China. Hwang menyelesaikan kasus itu tanpa mengakui atau menyangkal melakukan kesalahan. Ia pun membayarkan denda tersebut sesuai dengan nasehat ibunya yang menjadi misionaris di Meksiko. 

Alih-alih bangkrut, setahun berselang Hwang malahan mendirikan Archegos Capital Management yang mengelola uangnya sendiri. Memiliki rekam jejak sanksi dari regulator ternyata tak membuat pria 57 tahun ini kendor dalam berinvestasi.   

Hwang malahan bisa meyakinkan sejumlah bank investasi besar untuk meminjamkan uangnya dalam skema leverage di pasar saham. Bank memang juga bisa menikmati keuntungan dari strategi investasi yang dilakukan Hwang. 

Beberapa saham yang menjadi pilihan Hwang memang banyak yang harganya melonjak. Misalnya saham di Amazon.com, Facebook, LinkedIn, dan Netflix. Mantan rekan Hwang menceritakan Archegos pernah mendapatkan cuan US$ 1 miliar di saham Netflix. 

Kuartal keempat tahun 2020 adalah waktu terbaik investasi Hwang. Di saat indeks S&P 500 naik hampir 12%, tujuh dari 10 saham Archegos diketahui naik lebih dari 30%, dengan Baidu, Vipshop dan Farfetch melompat setidaknya 70%. Semua aktivitas itu menjadikan Archegos salah satu klien bank Wall Street yang paling didambakan. 

Hwang pun berhasil meyakinkan ke bank-bank itu untuk terus menaikkan leverage dari dua kali hingga bisa menjadi lima kali dari modalnya. 
 
Gambaran sederhana dari skema investasi Hwang dengan leverage ini pada penutupan setiap hari perdagangan, Archegos akan menyelesaikan akun swap-nya. Jika nilai total dari semua posisi di akun naik, bank yang bersangkutan akan membayar tunai Archegos. Namun jika nilainya turun, Archegos harus memberikan lebih banyak agunan atau, dalam bahasa industri, margin pos. Dalam posisi harga saham turun, bank juga mempunyai pilihan untuk menjual sahamnya agar tidak mendapatkan kerugian.  

Beberapa bank yang menjadi pemberi pinjaman Hwang adalah Morgan Stanley, Goldman Sachs, Credit Suisse dan Wells Fargo.

Investasi Hwang bergeser dari sebagian besar perusahaan teknologi ke campuran. Konglomerat media ViacomCBS dan Discovery menjadi kepemilikan yang sangat besar. Begitu pula setidaknya empat saham China: GSX Techedu, Baidu, iQiyi, dan Vipshop.

Baca Juga: JPMorgan taksir kerugian bank global akibat kejatuhan Archegos capai Rp 145 triliun

Di penghujung Maret lalu menjadi hari yang buruk bagi Hwang. Diawali penurunan harga ViacomCBS pada Selasa 24 Maret turun 9%, lalu keesok harinya anjlok 23%. Investasi Hwang mulai kacau yang diketahui nilainya taruhannya di saham itu memang cukup banyak. 

Seorang sumber menceritakan, saat itu diketahui beberapa bank mulai khawatir dan meminta ia menjual sahamnya dan mengambil opsi kerugian. Namun Hwang tampaknya menolak. Pada Kamis 26 Maret, mereka mengadakan pertemuan namun Hwang masih tetap bersikeras tak ingin menjual sahamnya. 

Kamis 26 Maret sore itu, tanpa sepatah kata pun kepada Hwang, Morgan Stanley melakukan tindakan pencegahan. Bank diam-diam menjual saham US$ 5 miliar dari kepemilikan Archegos-nya dengan harga diskon. 

Pada Jumat 27 Maret pagi, jauh sebelum pukul 09.30 bursa New York buka, Goldman mulai melikuidasi saham Baidu, Tencent Music Entertainment Group, dan Vipshop senilai US$ 6,6 miliar. Ini segera diikuti dengan US$ 3,9 miliar dari ViacomCBS, Discovery, Farfetch, iQiyi dan GSX Techedu.

Mendadak, Hwang pun kehilangan saham-saham itu semuanya hanya dalam dua hari. Menjadikan rekor di bursa saham, seseorang harus kehilangan Rp 280 triliun dalam waktu dua hari.  

Hwang Kembali terjatuh kedua kalinya setelah pernah mendapatkan sanksi dari regulator atas tuduhan insider trading. Namun bagi Hwang apa yang dilakukannya di pasar saham itu yang ia lakukan sesuai dengan firman Tuhan yang selama ini ia pelajari. 

"Saya mencoba berinvestasi sesuai dengan firman Tuhan dan kekuatan Roh Kudus. Di satu sisi, ini adalah cara berinvestasi yang tak kenal takut. Saya tidak takut mati atau uang," kata Hwang dalam video Metro Community tahun 2019. 


Tag


TERBARU

[X]
×