Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, memperingatkan bahwa konflik di Iran berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan komoditas global, yang dapat membuat inflasi bertahan tinggi serta mendorong suku bunga naik melampaui ekspektasi pasar.
Peringatan tersebut disampaikan Dimon dalam surat tahunan kepada pemegang saham, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Hal ini terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan ancaman menyerang infrastruktur penting jika tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Risiko Lonjakan Harga Energi dan Inflasi
Dimon menyoroti bahwa perang Iran menambah daftar risiko global yang sudah ada, seperti konflik di Ukraina dan ketegangan dengan China. Menurutnya, gangguan pasokan energi dan perubahan rantai pasok global dapat memperburuk tekanan inflasi.
Ia menegaskan bahwa dampak konflik ini bisa membuat inflasi menjadi lebih “lengket” (sticky), sehingga bank sentral kemungkinan harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.
Baca Juga: AS–Iran Terima Kerangka Gencatan Senjata, Teheran Tolak Buka Selat Hormuz
“Sekarang, karena perang di Iran, kita menghadapi potensi guncangan harga minyak dan komoditas yang signifikan dan berkelanjutan,” tulis Dimon.
Pasar Keuangan Terdampak
Kekhawatiran terhadap inflasi akibat perang telah mengubah ekspektasi pasar. Pelaku pasar kini mulai mengesampingkan peluang penurunan suku bunga tahun ini, setelah sebelumnya kebijakan moneter longgar mendorong reli pasar saham.
Indeks acuan S&P 500 bahkan mencatat kinerja kuartalan terburuk sejak 2022, tertekan oleh lonjakan harga energi sejak konflik meningkat pada akhir Februari.
Ekonomi AS Masih Tahan, Tapi Rentan
Meski demikian, Dimon menilai ekonomi AS masih cukup tangguh. Konsumen masih memiliki pendapatan dan tetap berbelanja, sementara kondisi bisnis secara umum masih sehat, meskipun mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi selama ini didukung oleh defisit anggaran besar dan stimulus pemerintah. Ke depan, kebutuhan belanja infrastruktur juga akan terus meningkat.
Dimon juga menyebut beberapa faktor positif, seperti stimulus fiskal dari kebijakan Trump, deregulasi, serta investasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi.
Risiko di Sektor Private Credit
Dalam surat tersebut, Dimon juga membahas sektor private credit yang kini bernilai sekitar US$1,8 triliun. Ia menilai sektor ini kemungkinan tidak menimbulkan risiko sistemik, namun tetap perlu diwaspadai.
Menurutnya, ketika siklus kredit melemah, potensi kerugian dari pinjaman berisiko tinggi bisa lebih besar dari perkiraan, terutama karena standar kredit yang mulai longgar.
Kurangnya transparansi dalam valuasi pinjaman juga meningkatkan risiko aksi jual investor jika kondisi pasar memburuk.
Sebelumnya, perusahaan investasi Blue Owl Capital membatasi penarikan dana dari dua produknya setelah terjadi lonjakan permintaan redemption, dipicu kekhawatiran dampak AI terhadap sektor teknologi.
Baca Juga: Intelijen Korea Selatan: Putri Kim Jong Un Dipersiapkan Jadi Penerus
Kritik terhadap Regulasi Perbankan
Dimon juga mengkritik aturan permodalan baru yang diusulkan regulator AS. Ia menilai sebagian kebijakan tersebut masih tidak masuk akal dan berpotensi merugikan bank besar.
Ia menyoroti aturan terkait Basel III dan tambahan modal untuk bank sistemik global (GSIB), yang menurutnya masih memiliki banyak kelemahan. Dimon menyebut kebijakan tersebut sebagai “tidak masuk akal” dan bahkan “tidak mencerminkan kepentingan nasional”.
Outlook: Ketidakpastian Tinggi
Secara keseluruhan, Dimon menekankan bahwa dunia saat ini menghadapi tantangan besar dari sisi geopolitik dan ekonomi. Dampak perang Iran terhadap energi, inflasi, dan suku bunga akan sangat menentukan arah ekonomi global ke depan.
Ia juga mengingatkan bahwa risiko proliferasi nuklir tetap menjadi ancaman utama dari Iran, menambah kompleksitas situasi global yang sudah penuh ketidakpastian.













