Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pergerakan pasar saham Asia cenderung bervariasi pada perdagangan Jumat (24/4/2026), sementara harga minyak kembali menguat di tengah kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Melansir Reuters, Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang yang dirilis oleh MSCI tercatat naik tipis 0,3% dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan sekitar 0,8%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 0,45%.
Namun, pasar saham di sejumlah negara lain bergerak melemah, termasuk Korea Selatan, China, dan Hong Kong.
Baca Juga: Mata Uang Asia Tertekan Jumat (24/4) Pagi, Peso Filipina Melemah Paling Dalam
Pergerakan yang beragam ini mencerminkan sentimen pasar yang masih rapuh di tengah ketidakpastian geopolitik.
Di pasar global, kontrak berjangka indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 masing-masing naik 0,6% dan 0,1%, setelah ditutup melemah pada sesi sebelumnya. Sebaliknya, kontrak berjangka indeks EURO STOXX 50 turun 0,65% dan FTSE 100 melemah 0,9%.
Analis menilai kondisi pasar saat ini mencerminkan tarik-menarik antara optimisme dan kekhawatiran investor. Harapan akan berakhirnya konflik di Timur Tengah masih dibayangi risiko eskalasi yang belum mereda.
Ketegangan meningkat setelah Iran menunjukkan kontrolnya atas Selat Hormuz dengan merilis video aksi pasukan yang menaiki kapal kargo.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memerintahkan militernya untuk mengambil tindakan tegas terhadap ancaman di jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga: Xiaomi Kirim 26.000 Unit Sedan Listrik SU7, Tantang Tesla
Situasi ini membuat prospek gencatan senjata menjadi tidak pasti, meskipun sebelumnya sempat diperpanjang untuk memberi ruang negosiasi lanjutan.
Di pasar komoditas, harga minyak kembali menguat seiring berlanjutnya ketegangan di kawasan tersebut.
Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 1% ke level US$ 106,21 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) menguat 1% ke US$ 96,77 per barel.
Sementara itu, pergerakan mata uang relatif terbatas. Dolar AS tetap berada di jalur penguatan mingguan karena permintaan aset safe haven meningkat.
Euro berada di level US$ 1,1684 dan berpotensi mencatat pelemahan mingguan sekitar 0,7%, sedangkan pound sterling relatif stabil di US$ 1,3469.
Baca Juga: China Mulai Jual Obligasi Ultra-Panjang, Uji Minat Investor
Fokus investor kini tertuju pada keputusan kebijakan sejumlah bank sentral utama pekan depan, termasuk Federal Reserve, European Central Bank, dan Bank of England, yang akan memberikan sinyal arah suku bunga di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Di Asia, perhatian juga tertuju pada kebijakan Bank of Japan. Yen Jepang saat ini berada di kisaran 159,78 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang kerap dianggap sebagai batas intervensi pemerintah.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali menegaskan kesiapan otoritas untuk mengambil langkah tegas guna menstabilkan nilai tukar.
Pelaku pasar juga mewaspadai potensi volatilitas tambahan menjelang libur panjang Golden Week di Jepang, yang dapat memicu pergerakan tajam di pasar valuta asing akibat likuiditas yang lebih tipis.












