kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.033   -24,00   -0,13%
  • IDX 5.147   149,99   3,00%
  • KOMPAS100 658   26,73   4,24%
  • LQ45 513   24,10   4,93%
  • ISSI 176   4,05   2,35%
  • IDX30 288   14,79   5,41%
  • IDXHIDIV20 378   21,05   5,90%
  • IDX80 76   3,23   4,46%
  • IDXV30 106   4,93   4,90%
  • IDXQ30 95   5,60   6,24%

Bursa Asia Melemah Senin (19/10), Investor Cermati Belanja AI dan Kinerja Emiten


Senin, 19 Oktober 2026 / 08:24 WIB
Bursa Asia Melemah Senin (19/10), Investor Cermati Belanja AI dan Kinerja Emiten
ILUSTRASI. Bursa Asia - Nikkei Jepang (REUTERS/Manami Yamada)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), di tengah kekhawatiran investor terhadap besarnya kebutuhan pendanaan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan besar pekan ini.

Penurunan harga minyak memberikan sedikit dukungan bagi pasar obligasi dan kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS), sehingga membatasi pelemahan bursa Asia. Namun, tekanan pada saham teknologi masih membebani pasar, terutama di Jepang dan Korea Selatan.

Baca Juga: Populasi Beijing Diprediksi Super-Tua 2035, Sepertiga Warga Berusia 60 Tahun ke Atas

Melansir Reuters, indeks Nikkei Jepang turun 2% setelah terkoreksi 5,4% sepanjang pekan lalu. Bursa Korea Selatan melemah 1,6%, menyusul penurunan lebih dari 14% pada pekan sebelumnya. Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,3%.

Kekhawatiran investor berpusat pada kemampuan pendapatan bisnis AI untuk menutup investasi infrastruktur yang sangat besar.

Selain itu, nilai infrastruktur tersebut berisiko menyusut seiring bertambahnya usia aset dan depresiasi.

“Investor telah lama khawatir bahwa pendapatan AI tidak akan cukup untuk menutup investasi awal yang sangat besar,” kata My Bui, ekonom di manajer investasi AMP.

Ia menambahkan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan pelebaran selisih imbal hasil kredit korporasi meningkatkan biaya pendanaan.

Kondisi ini membuat perusahaan semakin sulit memperoleh pinjaman, melakukan pembiayaan ulang, dan melanjutkan pembangunan infrastruktur AI.

Baca Juga: IPhone Duo Ludes Saat Pre-order, Harga di Pasar Resale Di Negara Ini Rp 69,9 Juta

Kinerja emiten teknologi jadi sorotan

Investor kini menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar untuk menilai prospek pertumbuhan bisnis dan kebutuhan belanja modal mereka.

Indeks semikonduktor PHLX turun 11,4% sepanjang pekan lalu. Penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan indeks menjadi yang terpanjang sejak 2008.

Pekan ini, investor akan mencermati laporan keuangan Meta pada Rabu, bersama sejumlah perusahaan semikonduktor seperti Lam Research dan Texas Instruments. Perhatian juga tertuju pada Tesla dan SpaceX, perusahaan yang dipimpin Elon Musk.

Menurut Goldman Sachs, lima perusahaan hyperscaler AI diperkirakan meningkatkan belanja modal gabungan menjadi sekitar US$ 1,2 triliun pada tahun depan.

Besarnya belanja tersebut memperkuat perhatian pasar terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan investasi.

Selain sektor teknologi, laporan keuangan Netflix, Procter & Gamble, General Motors, dan GE Aerospace juga akan menjadi perhatian investor.

Secara keseluruhan, laba perusahaan masih diperkirakan tumbuh 30%, terutama ditopang keuntungan besar perusahaan teknologi.

Karena itu, hasil laporan keuangan dan prospek belanja modal akan menjadi penentu penting bagi arah pasar saham dalam waktu dekat.

Baca Juga: Harga Minyak Tergelincir di Pagi Ini (19/10): Brent Anjlok 1,3% dan WTI Turun 0,5%

Harga minyak turun, obligasi AS menguat

Di pasar komoditas, harga minyak melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mempertimbangkan pelonggaran sebagian sanksi terhadap Rusia. Namun, Trump kemudian mengatakan keputusan final belum diambil.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Presiden membutuhkan waktu hingga 60 hari untuk menilai dampak ekonomi dari langkah tersebut.

Harga minyak mentah Brent turun 1,6% menjadi US$ 108,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS turun 0,7% menjadi US$ 100,70 per barel.

Meski demikian, risiko geopolitik masih membayangi pasar energi. Iran melaporkan sebuah kapal tanker kembali menabrak ranjau di Selat Hormuz.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun tiga basis poin menjadi 5,0645%. Penurunan ini melanjutkan reli obligasi pemerintah AS setelah imbal hasilnya mencatat penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari delapan bulan.

Pelemahan imbal hasil turut menopang kontrak berjangka saham AS. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,5%, sedangkan Nasdaq menguat 0,8%.

Harga emas juga meningkat seiring turunnya imbal hasil obligasi. Emas spot naik 0,4% menjadi US$ 4.181 per ons troi.

Baca Juga: Elon Musk Kehilangan Rp361 Triliun Setelah Tesla Pamer Mobil Terbang

Euro tertekan ketidakpastian politik Prancis

Di pasar valuta asing, euro melemah di tengah ketidakpastian politik Prancis setelah gelombang kerusuhan. Euro turun 0,2% menjadi US$ 1,1212, mendekati level terendah dalam 16 bulan yang tercatat pekan sebelumnya di US$ 1,1113.

Sementara itu, dolar AS melemah 0,1% terhadap yen menjadi 157,75 yen per dolar AS. Pergerakan dolar terhadap yen cenderung terbatas sepanjang Oktober karena investor mempertimbangkan risiko intervensi otoritas Jepang.

Dengan pasar menghadapi kombinasi ketidakpastian geopolitik, tekanan saham teknologi, dan tingginya kebutuhan belanja AI, investor akan mencermati laporan keuangan pekan ini untuk menilai apakah pertumbuhan laba mampu menopang valuasi saham dan membenarkan besarnya investasi sektor teknologi.

Baca Juga: Nasib Man City Makin Tak Pasti, Pengacara Sebut Banding Bakal Sulit Menang




TERBARU

[X]
×