Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia tertekan pada perdagangan Kamis (8/10/2026), seiring meningkatnya tekanan di pasar obligasi global.
Kekhawatiran investor menguat setelah sejumlah perusahaan teknologi besar dikabarkan tengah mencari pendanaan dalam jumlah besar untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Tekanan tersebut muncul ketika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) berada di dekat level tertinggi dalam 24 tahun.
Kondisi ini diperburuk kenaikan harga minyak akibat meningkatnya serangan terhadap pelayaran di kawasan Teluk, yang berpotensi memperkuat tekanan inflasi.
Baca Juga: Pasar Obligasi Global Kembali Berdarah, Imbal Hasil US Treasury 10 Tahun Dekati 5%
Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang MSCI turun 1,2%. Nikkei Jepang melemah 1,1%, sedangkan indeks saham Korea Selatan merosot 2,1%. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,1%.
Tekanan di pasar obligasi semakin menjadi perhatian karena sejumlah perusahaan teknologi dikabarkan mengandalkan utang untuk membiayai kebutuhan chip AI.
Broadcom disebut tengah mencari pendanaan sekitar US$50 miliar. Sementara itu, SpaceX dilaporkan berencana menerbitkan utang investment grade senilai US$30 miliar dan memperoleh pinjaman US$10 miliar untuk membeli chip Nvidia.
"Ekspansi AI kini semakin bergantung pada kredit, sehingga profil risikonya berubah," kata Nigel Green, CEO deVere Group.
Lonjakan utang korporasi tersebut terjadi ketika pasar obligasi pemerintah juga menghadapi tekanan akibat kekhawatiran inflasi, pelebaran defisit anggaran, dan suku bunga yang masih tinggi.
Notulen rapat Federal Reserve (The Fed) terakhir menunjukkan sebagian besar pejabat menilai kenaikan suku bunga kembali pada akhir tahun masih mungkin diperlukan.
Baca Juga: Bursa Asia Berguguran Senin (18/5), Harga Minyak dan Obligasi Global Kompak Melonjak
Pasar saat ini hanya memperkirakan peluang sekitar 19% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober, tetapi peluangnya mencapai sekitar 80% untuk Desember.
Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun bertahan di 4,78%, sedangkan tenor 10 tahun naik ke 5,30%. Sebelumnya, imbal hasil tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,326%, level tertinggi dalam 24 tahun.
Di sisi lain, penguatan dolar AS turut menekan mata uang lainnya. Indeks dolar naik ke 102,22, mendekati level tertinggi dalam 18 bulan.
Euro melemah ke US$1,1204 setelah turun 0,6% pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan euro terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis yang mulai merembet ke pasar obligasi Italia dan Yunani.
Kenaikan imbal hasil obligasi juga menjadi tekanan bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Meski demikian, harga emas berjangka masih naik 0,6% menjadi US$4.136 per ons setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan.
Di tengah kekhawatiran terhadap tingginya utang untuk pengembangan AI, belanja perusahaan teknologi untuk chip tetap berpotensi menopang kinerja sektor semikonduktor dan memori.
Baca Juga: Pasar Obligasi Global Bergejolak, Saham Asia Ikut Tertekan
Samsung Electronics, misalnya, memperkirakan laba operasional kuartal III melonjak 783% menjadi 107,4 triliun won.
Namun, saham Samsung tetap turun 1,2%, menunjukkan bahwa ekspektasi pertumbuhan laba belum mampu sepenuhnya mengimbangi kekhawatiran investor terhadap kenaikan biaya pendanaan dan risiko utang di pasar global.














