Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar obligasi global kembali mengalami aksi jual tajam pada Rabu (2/9/2026), memperpanjang tren pelemahan yang mendorong imbal hasil obligasi pemerintah ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi, sekaligus risiko membengkaknya utang pemerintah di berbagai negara.
Imbal hasil obligasi pemerintah menjadi salah satu acuan harga aset di berbagai pasar keuangan. Kenaikan imbal hasil berarti biaya pendanaan yang lebih tinggi, baik bagi konsumen maupun pemerintah.
Baca Juga: AS-Iran Kembali Memanas, Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz
Melansir Reuters, imbal hasil surat utang Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,81%, mendekati level tertinggi dalam hampir tiga tahun.
Kenaikan lebih lanjut menuju 5% berpotensi menambah tekanan terhadap pasar saham yang sudah bergejolak.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun bertahan di atas 3%, level tertinggi dalam 30 tahun.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik menjadi 5,198%, level tertinggi dalam lebih dari 15 tahun.
Kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman (bund futures) turun 0,45% ke level terendah sejak 2011. Adapun kontrak berjangka obligasi pemerintah Prancis (OAT futures) merosot 0,5% ke rekor terendah.
Chief Investment Strategist Saxo Charu Chanana mengatakan, investor obligasi kini semakin meminta premi lebih tinggi untuk mengantisipasi risiko inflasi, fiskal, serta besarnya penerbitan utang di pasar.
"Hal ini berarti aksi jual dapat berlangsung berlebihan, dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun menuju 5% semakin mungkin terjadi sebelum imbal hasil menjadi cukup menarik untuk kembali mendatangkan pembeli," ujar Chanana.
Baca Juga: 8 Nama WNI Ini Diklaim Intelijen Ukraina Sebagai Tentara Bayaran Rusia
Tekanan dari Pembiayaan AI
Tekanan terhadap pasar obligasi pemerintah juga datang dari maraknya penerbitan obligasi oleh perusahaan teknologi besar yang agresif menghimpun dana untuk membiayai pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Chief Macro Strategist Nomura Securities di Tokyo Naka Matsuzawa mengatakan, kesediaan perusahaan hyperscaler membayar tingkat bunga yang relatif tinggi turut mendorong imbal hasil obligasi secara keseluruhan.
Menurutnya, perhatian investor kini tertuju pada apakah pertumbuhan ekonomi mampu meningkat seiring dengan kenaikan biaya pendanaan.
"Lompatan produktivitas yang didorong AI perlu diterjemahkan menjadi kenaikan upah," kata Matsuzawa.
Jika kondisi tersebut terwujud, lanjut dia, perekonomian masih dapat menanggung tingkat suku bunga yang lebih tinggi.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 3,13% di Tengah Eskalasi Perang AS-Iran
Harga Minyak Jadi Perhatian
Investor juga mencermati langkah bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), dalam merespons tekanan inflasi yang masih berada di atas target 2%.
Komentar hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh pada pekan lalu turut mendorong pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga.
Tekanan dari harga energi juga menjadi perhatian utama pembuat kebijakan. Harga minyak mentah Brent pada Rabu naik 1% menjadi US$ 95,61 per barel, setelah melonjak hampir 6% pada sesi sebelumnya.
Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan memperumit ruang gerak bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun, yang biasanya sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik menjadi 4,41%, level tertinggi sejak Januari 2025.
Pelaku pasar kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga di Eropa pada pekan depan dan sekitar 68% peluang kenaikan suku bunga AS pada pekan berikutnya.
Baca Juga: Won Korea Menguat Rabu (2/9), Rupiah dan Peso Tertekan terhadap Dolar AS
Imbal Hasil Jepang Tembus 3%
Perubahan besar di pasar global juga tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bonds (JGB).
Imbal hasil JGB tenor 10 tahun, yang secara historis merupakan salah satu yang terendah di dunia, untuk pertama kalinya dalam 30 tahun menembus level 3% pada Selasa (1/9).
Pada Rabu pagi, imbal hasil tersebut berada di sekitar 3,01%.
Chief Asia Economist HSBC Fred Neumann mengatakan, kenaikan imbal hasil JGB tidak hanya mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal Jepang, tetapi juga tekanan global terhadap biaya pendanaan jangka panjang.
"Kenaikan imbal hasil JGB tidak hanya mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal Jepang, dengan rencana belanja ambisius yang telah disinyalkan untuk tahun-tahun mendatang, tetapi juga tekanan global terhadap biaya pendanaan jangka panjang," kata Neumann.
Baca Juga: Militer AS Selesaikan Gelombang Serangan Terbaru ke Iran
Kenaikan imbal hasil tersebut turut menyoroti kebijakan investasi agresif Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Kondisi serupa juga terjadi di Inggris, Prancis dan Jerman, yang menghadapi tekanan dari investor akibat kebijakan belanja pemerintah yang besar.
"Jepang dan Inggris terlihat paling dekat dengan garis depan karena kenaikan imbal hasil berbenturan dengan tekanan fiskal dan perubahan rezim moneter, sementara Prancis juga tetap rentan mengingat arah utangnya," ujar Chanana.
Di Inggris, imbal hasil obligasi pemerintah telah mencapai level tertinggi sejak 2008 pada Selasa (1/9).














